Legalitas dan Kemelut Terminal Bayangan di Jakarta Barat, Picu Kemacetan dan Tak Sumbang PAD Terminal

- Jurnalis

Sabtu, 14 Maret 2026 - 18:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TERLIHAT  - sejumlah bus antar kota antar provinsi (AKAP) berjejer menunggu penumpang di Outer Ring Road Cengkareng (depan gerbang Tol Kapuk-Kamal). Bus-bus tersebut melayani keberangkatan pemudik ke berbagai daerah di Pulau Jawa. (Foto: Suara Realitas).

TERLIHAT - sejumlah bus antar kota antar provinsi (AKAP) berjejer menunggu penumpang di Outer Ring Road Cengkareng (depan gerbang Tol Kapuk-Kamal). Bus-bus tersebut melayani keberangkatan pemudik ke berbagai daerah di Pulau Jawa. (Foto: Suara Realitas).

JAKARTA, suararealitas.co – Aktivitas terminal bayangan di Jakarta Barat seolah dibiarkan tanpa penataan dan menyisakan persoalan serius.

Salah satu warga Kayu Besar, Arif menilai bahwa pernyataan pemerintah terkait penertiban terminal bayangan hanya sebatas pencitraan.

Menurutnya, hingga saat ini tidak terlihat langkah nyata dari pihak terkait untuk menindak aktivitas tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Itu mah hanya gimik agar terlihat tegas. Faktanya di lapangan tidak ada petugas Dishub yang berani menertibkan. Terminal bayangan ini sudah seperti ATM bagi para oknum. Tunggu saja sebentar lagi biasanya ada yang datang tanpa seragam sebentar lalu pergi,” ujar Arif seperti dikutip dari duadimensi.com, Sabtu (14/3/2026).

“Coba Pak Gubernur cek langsung ke Ring Road Cengkareng. Lihat bagaimana kerja Dishub Jakarta Barat. Jangan hanya menerima laporan di atas meja. Percuma kalau di media bilang mau berantas terminal bayangan, tapi faktanya berbeda,” tegasnya.

Berdasarkan pantauan suararealitas.co, terminal bayangan di Jakarta Barat terdapat tiga lokasi yakni Outer Ring Road Cengkareng (depan gerbang Tol Kapuk-Kamal) dan Jalan Daan Mogot Cengkareng (Jembatan Gantung, Pesing) dan kawasan Latumenten, Grogol Petamburan.

Terlihat, sejumlah bus antar kota antar provinsi (AKAP) berjejer menunggu penumpang. Bus-bus tersebut melayani keberangkatan pemudik ke berbagai daerah di Pulau Jawa.

Meski ramai digunakan sebagai titik naik-turun penumpang, keberadaan lokasi tersebut dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan sekaligus memicu kemacetan, terutama pada jam-jam sibuk.

Baca Juga :  Warga Minta Walikota Bongkar Seluruh Reklame di Jakarta Utara yang Tak Kantongi Izin

“Hampir tiap hari macet, apalagi pagi sama sore. Kendaraan berhenti sembarangan, penumpang nyebrang langsung ke jalan. Kalau lagi ramai, ngeri lihatnya,” ujar seorang pengendara yang melintas bernama Ujang (47).

“Ini kan jalur mengarah ke tol, motor sama mobil banyak yang kencang. Tiba-tiba ada orang nyebrang atau mobil ngerem mendadak, risikonya besar,” tambahnya.

Selain menimbulkan kemacetan di kawasan tersebut, aktivitas terminal bayangan itu disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa penindakan tegas dari aparat berwenang.

“Kalau terminal bayangan itu sepengetahuan saya sih sudah puluhan tahun, cuman ya begitu-begitu saja tanpa ada tindakannya,” sebutnya.

Sementara itu, pengguna jalan lain, Rina menilai kemacetan kerap terjadi karena kendaraan angkutan menunggu penumpang dalam waktu cukup lama.

“Aktifitas terminal bayangan saat hendak memberangkatkan penumpang mengakibatkan ruas jalan macet total. Kadang bus ngetem lama, jadi macet. Motor sama mobil lain jadi susah lewat,” ujarnya.

“Ditambah lagi banyak penumpang yang saat diantarkan oleh sanak saudara juga memarkirkan kendaraaan di pinggir jalan,” sambungnya.

Rina meminta instansi terkait melakukan penanganan terminal bayangan secara permanen.

“Hari ini ditindak, besok tetap saja pengelola terminal bayangan tetap beraktifitas. Jadi, kayak main kucing – kucingan,” paparnya.

Namun, terminal itu selalu saja muncul karena tingginya jumlah warga yang memakai terminal itu saban hari.

Baca Juga :  Uus Kuswanto Minta Satuan Kerja Perangkat Daerah Antisipasi Genangan saat Musim Penghujan Tiba

“Lebih mudah aksesnya dari rumah. Kalau dari terminal resmi selain jauh juga lebih ribet,” kata seorang penumpang tujuan Purwodadi, Sunardi.

Bahaya serupa dirasakan penumpang lainnya. Dony (23) mengaku terpaksa menggunakan terminal bayangan tersebut karena dinilai lebih praktis, meski sadar akan risikonya.

“Sebenarnya takut, soalnya turun langsung ke jalan. Kendaraan banyak, nggak ada zebra cross atau pengamanan. Tapi mau gimana lagi, kalau nunggu di tempat resmi jauh,” katanya.

Kendati demikian, para agen bus bahkan terkesan tidak khawatir terhadap kemungkinan adanya razia di kawasan tersebut.

Salah satu petugas loket yang enggan menyebutkan identitasnya berujar bahwa aktivitas di terminal bayangan ini pihaknya berjalan seperti biasa.

“Aman, Pak. Semua bisa diatur, kawan kita semua,” ujar petugas loket tersebut.

Disisi lain, para pengguna jasa (sopir) berdalih jika terminal bayang tersebut memiliki posisi yang strategis sehingga tidak menyulitkan penumpang dan sopir.

Ketegasan Pemprov DKI Jakarta dalam menertibkan terminal ilegal menjelang arus mudik Lebaran 2026 menjadi sorotan maupun dipertanyakan, lantaran aktivitas tersebut masih berlangsung bebas tanpa pengawasan.

Kini, suararealitas.co tengah berusaha melakukan konfirmasi kepada pihak terkait. Konfirmasi akan dimuat pada kolom berikutnya.

Di saat situasi tidak menentu, suararealitas.co tetap berkomitmen memberikan fakta dan realita jernih dari situasi dan kondisi lapangan. Ikuti terus update terkini suararealitas.co.

Berita Terkait

Terminal Bayangan Marak di Jakbar, Ini Saran Pengamat Transportasi
Lailatul Qadar: Momentum Penyerahan Diri Total kepada Allah
Bulan Ramadhan || Aceng Syamsul Hadie: Bulan Revolusi Moral Umat 
Aliansi Jurnalis Bersatu Gelar Buka Puasa Bersama serta Santunan 500 anak yatim dan Dhuafa
Rumah Guyub Kelapa Dua Berbagi Takjil, Tradisi Ramadan yang Menyatukan Paguyuban
Saluran Tersumbat dan Jalan Cekung Picu Genangan, Pemkot Jakbar Siapkan Perbaikan Besar
Prabowo Siap Jadi Mediator Iran – AS || Aceng Syamsul Hadie: Keluar Dulu dari BoP, Baru Jadi Mediator karena Netralitas Tidak Bisa Setengah Hati
Satpol dan UPPRD Setali Tiga Uang “Lindungi” Reklame Tanpa Izin

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 15:13 WIB

Terminal Bayangan Marak di Jakbar, Ini Saran Pengamat Transportasi

Sabtu, 14 Maret 2026 - 18:45 WIB

Legalitas dan Kemelut Terminal Bayangan di Jakarta Barat, Picu Kemacetan dan Tak Sumbang PAD Terminal

Jumat, 13 Maret 2026 - 11:57 WIB

Lailatul Qadar: Momentum Penyerahan Diri Total kepada Allah

Kamis, 12 Maret 2026 - 00:14 WIB

Bulan Ramadhan || Aceng Syamsul Hadie: Bulan Revolusi Moral Umat 

Rabu, 11 Maret 2026 - 08:03 WIB

Aliansi Jurnalis Bersatu Gelar Buka Puasa Bersama serta Santunan 500 anak yatim dan Dhuafa

Berita Terbaru

Megapolitan

Terminal Bayangan Marak di Jakbar, Ini Saran Pengamat Transportasi

Minggu, 15 Mar 2026 - 15:13 WIB