Rahmad Sukendar: Ini Bukan Bencana Alam Tapi Pembantaian Ekologis Akibat Pembiaran Negara!

- Jurnalis

Selasa, 2 Desember 2025 - 23:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, suararealitas.co – Ketua Umum BPI KPNPA RI, Tubagus Rahmad Sukendar, mengeluarkan pernyataan keras terkait rangkaian bencana besar yang melanda Sumatera dan menewaskan ratusan warga.

Ia menegaskan bahwa tragedi tersebut bukan sekadar musibah, melainkan akibat langsung dari kerusakan ekologis yang dibiarkan berlangsung selama bertahun-tahun.

“Aparat negara sudah saatnya bergerak. Jangan biarkan bangsa ini terus menderita akibat ulah para perusak hutan dan pelaku tambang liar,” tegas Rahmad kepada suararealitas.co, Selasa (02/12/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ratusan Warga Tewas, Ratusan Hilang: Sumatera Menjerit

Bencana banjir bandang dan longsor yang menyapu desa hingga kota di Sumatera telah menewaskan lebih dari 600 jiwa, sementara ratusan lainnya masih hilang, diduga terkubur lumpur dan reruntuhan bukit yang digunduli.

“Ini bukan musibah biasa. Sumatra sedang menjerit keras. Yang terjadi hari ini adalah hasil dari pengrusakan hutan dan eksploitasi tambang yang terus dibiarkan,” ujar Rahmad.

Rahmad menyampaikan duka cita mendalam atas hancurnya kehidupan warga dan porak porandanya kawasan pemukiman akibat ambruknya ekosistem yang selama ini menjadi benteng alam.

Baca Juga :  Kebijakan Iuran BPJS Kesehatan bagi Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah

Negara Tidak Bisa Lagi Berlindung Dibalik Istilah Musibah Alam

Rahmad menegaskan, bahwa kerusakan ekologis yang terjadi merupakan konsekuensi dari deforestasi brutal yang menghabiskan hutan-hutan hulu daerah aliran sungai (DAS) Sumatera.

Data Global Forest Watch mencatat Indonesia kehilangan 10,7 juta hektare hutan primer dalam 20 tahun terakhir, angka yang mencerminkan pembiaran sistematis.

“Setiap izin yang dikeluarkan tanpa pengawasan berarti satu ancaman baru bagi desa-desa di hilir. Semua orang tahu itu, termasuk pemerintah,” kritiknya.

Menurut Rahmad, negara tidak boleh lagi berpura-pura bahwa banjir bandang adalah kehendak alam.

“Ketika ada nya yang meninggal, itu bukan alam yang salah. Itu kebijakan yang salah. Itu keberpihakan negara yang salah,” sebutnya.

Tuntutan: Hentikan Semua Aktivitas Ekspoitasi di Kawasan Rawan Sekarang!

Rahmad mendesak pemerintah untuk bergerak cepat:

1. Hentikan total aktivitas ilegal logging dan tambang liar.

2. Audit menyeluruh semua izin konsesi hutan dan tambang.

Baca Juga :  Terbengkalai Inventarisasi Aset Objek Wisata di Indramayu, Nasibnya Bagai Rumah Hantu: Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

3. Proses pidana pemilik modal, operator lapangan, hingga pejabat pemberi izin.

4. Bongkar jaringan mafia hutan yang memperjualbelikan kawasan konservasi dan hulu DAS.

“Kalau negara tidak mampu menindak tegas, itu artinya negara memilih membiarkan rakyatnya mati,” ujarnya keras.

Sumatera Telah Membayar dengan Darah, Giliran Negara Menunjukkan Keberaniannya

Rahmad menegaskan bahwa tragedi di Sumatera adalah luka bangsa, bukan sekadar bencana.

Menurutnya, bangsa yang membiarkan warganya mati karena kesalahan yang bisa dicegah adalah bangsa yang telah kehilangan kompas moralnya.

“Menjaga hutan adalah menjaga kehidupan. Kita sudah kehilangan ratusan jiwa. Berapa lagi yang harus mati sebelum negara benar-benar bangun?,” tegasnya.

Kendati demikian, ia menutup pernyataannya dengan desakan kuat.

“Jika keberanian politik tidak muncul hari ini, maka setiap musim hujan akan terus menjadi musim kematian,” tutupnya.

Disclaimer: Kolom artikel ini adalah wadah bagi lembaga di bidang terkait dalam menyampaikan kritik maupun sudut pandang atau gagasannya.

Berita Terkait

Aturan Hak Jawab Kedaluwarsa di Era Digital, Praktisi Pers Mubinoto Amy Ajukan Revisi ke Dewan Pers
Camat dan Sekcam Pasarkemis, Mengucapkan Selamat Menyambut Hari Raya Natal Bagi Umat Kristiani dan Tahun Baru 2026
67 Persen Kapolsek di Indonesia Dinilai Tak Kompeten, Rahmad Sukendar Tuding Ada Masalah Serius dalam Sistem Pembinaan Polri
Fenomena Perwira Jadi “Pangkodamar”, Bukan Pelayan Rakyat, Rahmad Sukendar: Polri Harus Reformasi Total dari Sekarang
Dibalik Realitas Kelam Secangkir Kopi Pangku, Jejak Kolonial Pemuas Nafsu Mata Keranjang Patriaki
Digugu dan Ditiru, Kini Jadi Gugatan hingga Rusak: Siapa yang Bermain Dibalik Tumpulnya Peran Guru Indonesia?
Kakanwil Kamenag Provinsi Banten, Bacakan Ikrar Santri di Hari Santri
Andra Soni Terima Penghargaan Tangerang Pos Award, Ajak Pers Bangun Banten Lewat Literasi

Berita Terkait

Selasa, 9 Desember 2025 - 14:23 WIB

Aturan Hak Jawab Kedaluwarsa di Era Digital, Praktisi Pers Mubinoto Amy Ajukan Revisi ke Dewan Pers

Jumat, 5 Desember 2025 - 21:10 WIB

Camat dan Sekcam Pasarkemis, Mengucapkan Selamat Menyambut Hari Raya Natal Bagi Umat Kristiani dan Tahun Baru 2026

Selasa, 2 Desember 2025 - 23:41 WIB

Rahmad Sukendar: Ini Bukan Bencana Alam Tapi Pembantaian Ekologis Akibat Pembiaran Negara!

Rabu, 26 November 2025 - 21:18 WIB

67 Persen Kapolsek di Indonesia Dinilai Tak Kompeten, Rahmad Sukendar Tuding Ada Masalah Serius dalam Sistem Pembinaan Polri

Selasa, 25 November 2025 - 12:43 WIB

Fenomena Perwira Jadi “Pangkodamar”, Bukan Pelayan Rakyat, Rahmad Sukendar: Polri Harus Reformasi Total dari Sekarang

Berita Terbaru

Berita Aktual

Gubernur DKI Buka Festival Jakarta Panen Buku 2025

Selasa, 16 Des 2025 - 20:10 WIB