Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Iklan
Iklan

Pasang Iklan Hubungi Admin

Baca berita tanpa iklan. Gabung Suara Realitas

Suara Realitas Official AppGRATIS • Berita terkini Install
Gabung Suara Realitas Masuk
S+
Tranding
Pasang iklan di sini

Jangkau pembaca Suara Realitas. Hubungi admin untuk tarif dan ketentuan iklan.

Bagikan:fXWTOpini: Merajut Kembali Hubungan Dosen dan Mahasiswa Melalui Dialog yang SetaraKomentar: 0
Berita Sulawesi

Opini: Merajut Kembali Hubungan Dosen dan Mahasiswa Melalui Dialog yang Setara

Suara Realitas, 30 Mei 2025, 16:41 WIB · 2 menit bacaBaca di App
Huruf
Mahasiswa S3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin sekaligus Dosen Universitas Almarisah Madani, Fitri Adriani. (Foto: suararealitas.co).

JAKARTA, suararealitas.co – Konflik antara dosen dan mahasiswa adalah hal yang lumrah terjadi dalam dinamika kehidupan kampus.

Perbedaan sudut pandang, ketidaksepahaman dalam komunikasi, atau ekspektasi yang tidak sejalan sering kali menjadi pemicu gesekan.

Namun demikian, konflik tidak selalu bersifat negatif. Justru, dalam konflik terkandung potensi pembelajaran, asalkan dikelola dengan bijak.

Salah satu bentuk konflik yang umum terjadi adalah ketidaksepahaman dalam proses penilaian atau pemberian tugas.

Mahasiswa merasa tidak mendapat kejelasan atau keadilan, sementara dosen merasa kewenangannya sebagai pengampu mata kuliah dipertanyakan.

Masalah seperti ini seringkali diperburuk oleh kurangnya ruang dialog yang sehat dan terbuka.Untuk menciptakan solusi yang konstruktif, diperlukan perubahan pola komunikasi di antara keduanya.

Baca Juga :  Perempuan dalam Kriket Bukan Hanya Menggenggam Bat Tetapi Mematahkan Batasan

Dosen perlu membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pendapat dan keluhan tanpa rasa takut.

Sebaliknya, mahasiswa pun perlu belajar menyampaikan aspirasi dengan sopan dan menghargai otoritas akademik dosen.

Komunikasi dua arah yang dilandasi saling percaya akan memperkuat relasi dan mencegah konflik berkembang menjadi lebih besar.

Selain itu, kampus sebagai lembaga juga harus berperan aktif menyediakan sarana penyelesaian konflik, seperti ruang mediasi akademik atau forum diskusi reguler antara dosen dan mahasiswa.

Baca Juga :  Skandal Saham PT Bososi Pratama: Iming-iming Investor Smelter, Berakhir Penipuan dan Penggelapan

Upaya ini tidak hanya membantu menyelesaikan persoalan yang ada, tetapi juga membangun budaya akademik yang lebih dewasa dan inklusif.

Penting disadari bahwa, baik dosen maupun mahasiswa memiliki tujuan yang sama yakni “keberhasilan dalam proses pendidikan”.

Ketika keduanya mampu saling memahami peran dan tanggung jawab masing-masing, maka konflik dapat diselesaikan bukan dengan saling menyalahkan, tetapi dengan semangat memperbaiki.

Dengan membangun budaya dialog, empati, dan keterbukaan, kampus bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat bertumbuh sebagai manusia yang utuh.

Baca tentangBerita Sulawesi
Lihat Kolom Selengkapnya→
Memuat berita berikutnya…
Artikel Terkait Kolom
Berita AktualKanal lain
NasionalKanal lain