JAKARTA, Suararealitas.co — Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, pada 5–6 September 2026, mendorong perubahan paradigma pendidikan menuju sistem yang mampu membentuk manusia secara utuh.
Forum internasional yang digelar dalam rangkaian peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut mempertemukan sekitar 300 peserta dari berbagai negara dan lima benua. Mereka berasal dari kalangan pimpinan pesantren, sekolah berasrama, madrasah, perguruan tinggi, lembaga filantropi, hingga organisasi kemasyarakatan Islam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama dua hari, para peserta membahas pendidikan holistik yang tidak hanya menekankan aspek kognitif dan intelektual, tetapi juga keterampilan, soft skill, kepemimpinan, ketahanan diri, karakter, kehidupan sosial, dan spiritualitas.
Salah satu pimpinan Gontor menjelaskan, pendidikan holistik menjadi kebutuhan penting untuk mempersiapkan generasi menghadapi kompleksitas tantangan masa depan.
“Jadi bukan sekadar mendidik, memberi pelajaran kognitif dan intelektual, tetapi juga keterampilan, soft skill, kepemimpinan, ketahanan diri, dan lain sebagainya. Itu yang dibutuhkan oleh anak-anak kita sekarang untuk menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut memiliki keselarasan dengan sejumlah pilar pendidikan yang dikembangkan UNESCO dan para pakar pendidikan. Namun, perspektif pendidikan Islam memberikan penekanan pada dimensi spiritualitas sebagai bagian penting dari pembentukan manusia.
“Ada satu-dua poin yang di UNESCO tidak ada, yaitu spiritualitas. Mereka lupa jiwa dari Adam sebagai manusia,” katanya.
Deklarasi Pendidikan Holistik
Salah satu hasil utama GIHES 2026 adalah GIHES Declaration 2026, yang dirumuskan sebagai pijakan bersama dalam mengembangkan paradigma pendidikan holistik berbasis nilai, karakter, dan keseimbangan berbagai dimensi manusia.
Deklarasi tersebut dibacakan Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. Isinya menekankan pentingnya integrasi disiplin ilmu sekaligus integrasi kehidupan, dengan mempertemukan ilmu agama dan sains kontemporer dalam kerangka pendidikan yang harmonis.
Konsep tersebut juga menghubungkan ilmu, amal, dan adab. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari kemampuan peserta didik menguasai pengetahuan, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut diterapkan dalam kehidupan dan membentuk perilaku yang bertanggung jawab.
Hamid menilai sistem pendidikan saat ini masih terlalu menekankan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara pembentukan manusia secara menyeluruh belum sepenuhnya mendapatkan perhatian.
“Sistem pendidikan saat ini terlalu menekankan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga belum sepenuhnya mengimplementasikan pilar-pilar pendidikan yang dikemukakan oleh UNESCO dan para pakar pendidikan,” ujar Hamid.
AI dan Tantangan Pendidikan Masa Depan
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menjadi perhatian dalam forum tersebut.
Pesatnya perkembangan AI dinilai memberikan peluang besar bagi dunia pendidikan, tetapi sekaligus membutuhkan landasan etika agar kemajuan teknologi tidak menghilangkan peran, tanggung jawab, dan agensi manusia.
Karena itu, pemanfaatan AI didorong tetap berpusat pada manusia dengan mengedepankan kemampuan berpikir kritis, kebijaksanaan moral, tanggung jawab sosial, dan prinsip keberlanjutan.
Salah satu pimpinan Gontor menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan bersama nilai dan tanggung jawab.
“Ilmu pengetahuan saja tidak cukup. Teknologi, AI, semuanya itu harus dikembalikan kepada sesuatu yang sustainable dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Dalam kerangka pendidikan holistik, teknologi diharapkan menjadi instrumen untuk memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikan manusia dalam menentukan nilai, mengambil keputusan, dan membangun kehidupan sosial.
Pesantren Jadi Referensi Pendidikan Global
Konsep pendidikan holistik yang dibahas dalam GIHES juga berkaitan erat dengan pengalaman panjang pendidikan pesantren, khususnya sistem pendidikan berasrama yang diterapkan Gontor.
Dalam sistem tersebut, proses pendidikan berlangsung tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga melalui kehidupan bersama selama 24 jam. Pembiasaan, keteladanan, pengasuhan, kedisiplinan, kepemimpinan, kebersamaan, dan praktik kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
Karena itu, pendidikan holistik yang ditawarkan GIHES dinilai bukan sekadar wacana akademik. Model tersebut telah dipraktikkan dalam lingkungan pesantren selama puluhan tahun.
“Konsep ini bukan wacana. Kita sudah melaksanakannya. Kita tawarkan kepada dunia, mau tidak memakai ini,” katanya.
Melalui GIHES, pengalaman pendidikan pesantren Indonesia juga didorong menjadi bagian dari percakapan global mengenai masa depan pendidikan. Indonesia tidak hanya diposisikan sebagai penerima konsep pendidikan dari negara lain, tetapi juga memiliki pengalaman dan praktik yang dapat ditawarkan kepada komunitas pendidikan internasional.
Pesantren dan Misi Perdamaian
Selain pendidikan, GIHES 2026 mengangkat pengalaman pesantren sebagai salah satu sumber pembelajaran dalam membangun masyarakat yang damai dan berkarakter.
Pesantren dinilai memiliki kontribusi penting dalam perjalanan bangsa Indonesia sekaligus menjadi ruang pembentukan nilai keislaman, kehidupan sosial, kebersamaan, dan perdamaian.
Menurut salah satu pimpinan Gontor, perhatian tokoh-tokoh internasional terhadap pesantren menunjukkan adanya potensi besar yang dapat diperkenalkan lebih luas.
“Pesantren banyak dikunjungi tamu-tamu dari luar negeri. Di pondok kami, langganannya ambassador, bahkan Tony Blair dan para presiden. Kenapa mereka ingin tahu? Karena wajah Islam damai itu dilahirkan dari dunia pesantren,” ujarnya.
Pengalaman tersebut dinilai semakin relevan di tengah berbagai persoalan global, mulai dari konflik dan peperangan, krisis kemanusiaan hingga persoalan lingkungan.
“Ini sebenarnya perlu dilirik, bahwa kita menghasilkan perdamaian yang luar biasa. Sumber daya ini harus diekspor ke luar,” katanya.
Pendidikan holistik dengan demikian tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan manusia yang menguasai ilmu dan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran moral, kepedulian sosial, tanggung jawab terhadap lingkungan, serta kemampuan membangun perdamaian.
GIHES Tak Berhenti pada Deklarasi
Agar hasil summit tidak berhenti sebagai dokumen dan wacana, peserta GIHES 2026 menyepakati pembentukan Working Groups yang melibatkan berbagai lembaga dan negara.
Ketua Panitia GIHES 2026 sekaligus Sekretaris Jenderal Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG), Dr. KH Anang Rikza Masyhadi, menegaskan pentingnya tindak lanjut setelah forum berakhir.
“Jangan sampai GIHES ini berhenti pada konferensi, berhenti pada deklarasi, tetapi harus ada follow up. Harus ada working group yang kemudian bekerja untuk mengimplementasikan apa yang telah kita deklarasikan,” ujar Anang.
Working Group tersebut diarahkan menjadi wadah untuk menerjemahkan hasil summit ke dalam kerja sama yang lebih konkret. Sejumlah agenda yang dibahas mencakup pertukaran pelajar dan tenaga pendidik, pengembangan riset bersama, penyusunan policy brief, penguatan jejaring lembaga pendidikan, serta pengembangan platform digital untuk mendukung kolaborasi pendidikan lintas negara.
Hasil pemikiran dan riset yang berkembang selama forum juga akan dikembangkan menjadi publikasi akademik berstandar internasional. Materi tersebut direncanakan dihimpun dalam naskah akademik dan dikembangkan untuk publikasi melalui penerbit internasional Springer di Eropa serta jurnal-jurnal terindeks.
Dengan agenda tersebut, GIHES diharapkan berkembang dari sebuah forum pertemuan menjadi jaringan kolaborasi pendidikan yang terus bekerja setelah summit berakhir.
Momentum 100 Tahun Gontor
Penyelenggaraan GIHES 2026 tidak terlepas dari momentum satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor. Pendidikan holistik yang menjadi tema utama summit disebut telah menjadi bagian dari praktik pendidikan Gontor sejak awal perkembangannya.
“Ini momentum berharga 100 tahun Gontor sehingga Islamic Holistic Education ini sudah dilaksanakan 100 tahun yang lalu hingga saat ini masih terjaga,” ujar salah satu pimpinan Gontor.
Jakarta dipilih sebagai lokasi pelaksanaan summit untuk memperluas jangkauan gagasan yang dibawa GIHES. Selain menjadi pusat pemerintahan, Jakarta juga menjadi ruang pertemuan berbagai pemimpin dan pemangku kepentingan nasional maupun internasional.
“Kalau dilaksanakan di Gontor Jawa Timur, perlu juga pimpinan dunia itu adanya di Jakarta, sehingga gaung dan resonansinya ke dunia bukan hanya di Jawa Timur, tetapi di Jakarta, nasional, juga ke dunia,” katanya.
Ke depan, pesantren diharapkan tidak hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai salah satu kekuatan yang dapat berkontribusi dalam pembangunan peradaban Indonesia dan dunia.
Kontribusi itu diwujudkan melalui pendidikan yang menggabungkan ilmu pengetahuan, keterampilan, kepemimpinan, karakter, moral, spiritualitas, serta kepedulian terhadap kemanusiaan dan lingkungan.
“Harapannya pesantren menjadi bagian penting dalam peradaban Indonesia dan dunia melalui kontribusi-kontribusi. Kita tidak akan berhenti untuk memproduksi kebaikan dan kemanfaatan,” ujarnya.
Melalui Deklarasi GIHES 2026 dan pembentukan Working Group lintas negara, forum tersebut diharapkan menjadi titik awal terbentuknya ekosistem kerja sama pendidikan holistik yang lebih luas.
GIHES 2026 pada akhirnya membawa pesan bahwa pendidikan masa depan tidak cukup hanya mencetak manusia yang cerdas secara akademik. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang berkarakter, beradab, memiliki kedalaman spiritual, tangguh menghadapi perubahan, mampu memimpin, bijak memanfaatkan teknologi, serta bertanggung jawab terhadap masyarakat, lingkungan, dan masa depan peradaban.



































