Kediri, Suararealitas.co — Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga, peran perempuan, khususnya ibu rumah tangga, dinilai sangat penting sebagai pengelola gizi dan kesehatan keluarga. Melalui kreativitas yang dimiliki, perempuan juga dapat memanfaatkan lahan pekarangan rumah menjadi area produktif, salah satunya dengan teknik hidroponik.
Untuk membekali keterampilan tersebut, Gabungan Organisasi Wanita Kota Kediri menggelar workshop budidaya tanaman hidroponik dengan menghadirkan narasumber Agus Fatony Tohari, Rabu (13/5).
Ketua GOW Kota Kediri, Faiqoh Azizah Muhammad mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen organisasi dalam memberdayakan perempuan sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga melalui peningkatan keterampilan yang bermanfaat di lingkungan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan kebutuhan hidup, pemanfaatan lahan berbasis hidroponik maupun polibag dapat menjadi langkah positif yang bisa diterapkan oleh ibu rumah tangga maupun komunitas di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi anggota GOW yang telah menggagas program workshop budidaya sayur tersebut dengan penuh dedikasi, serta narasumber yang telah membagikan ilmu dan pengalaman kepada para peserta.
“Program seperti ini sangat positif karena tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga mendorong terciptanya kemandirian serta kepedulian terhadap lingkungan dalam mendukung ketahanan pangan keluarga,” katanya.
Dalam kegiatan itu, sekitar 150 peserta hadir mengikuti pelatihan. Faiqoh berharap seluruh peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga kegiatan ini dapat menjadi awal untuk terus melahirkan program-program inovatif yang memberdayakan masyarakat,” tandasnya.
Sementara itu, Agus Fatony Tohari menjelaskan bahwa hidroponik merupakan metode budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah, melainkan memanfaatkan air yang telah mengandung nutrisi.
Menurutnya, beberapa media tanam pengganti tanah yang dapat digunakan antara lain sekam bakar, cocopeat, dan rockwool.
Ia menjelaskan, teknik hidroponik memiliki sejumlah keunggulan dibanding metode konvensional, di antaranya mampu menanam lebih banyak tanaman dalam lahan terbatas, tanaman lebih tahan terhadap penyakit dan hama, serta pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat karena kebutuhan nutrisi, air, dan oksigen terpenuhi secara optimal.
Untuk memulai budidaya hidroponik, lanjut Agus, masyarakat cukup menyiapkan beberapa perlengkapan dasar seperti netpot, media tanam, benih sayuran, serta nutrisi hidroponik.
Selain itu, terdapat pula alat pendukung seperti TDS meter yang berfungsi mengukur kandungan partikel dalam larutan air, serta pH meter untuk mengukur tingkat keasaman atau kebasaan cairan.
Melalui workshop tersebut, Agus berharap pelatihan hidroponik dapat menjadi langkah awal dalam mendorong lahirnya perempuan yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing melalui pemanfaatan teknologi pertanian modern yang ramah lingkungan.




































