Rumiah Kartoredjo: Jejak Emas Atlet Nasional yang Jadi Kapolda Perempuan Pertama di Indonesia

- Jurnalis

Sabtu, 7 Maret 2026 - 19:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

POTRET - Rumiah Kartoredjo. (Foto: Istimewa).

POTRET - Rumiah Kartoredjo. (Foto: Istimewa).

JAKARTA, suararealitas.co – Dalam catatan sejarah Kepolisian Republik Indonesia (Polri), nama Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Rumiah Kartoredjo menempati posisi yang sangat istimewa.

Lahir di Tulungagung pada 19 Maret 1952, ia adalah sosok pendobrak “langit-langit kaca” yang membuktikan bahwa dedikasi dan disiplin mampu membawa seorang perempuan ke puncak kepemimpinan korps Bhayangkara.

Januari 2008 menjadi momen monumental bagi Polri saat Kapolri Jenderal Polisi Sutanto melantik Rumiah sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Banten.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pelantikan ini menjadikannya polisi wanita (Polwan) pertama dalam sejarah Indonesia yang memegang tongkat komando di tingkat provinsi.

Mimpi Sederhana dan Kedisiplinan dari Tulungagung

Tumbuh dalam keluarga sederhana sebagai anak keempat dari delapan bersaudara, Rumiah dibesarkan dengan nilai-nilai agama dan disiplin waktu yang ketat.

Menariknya, menjadi polisi bukanlah cita-cita awalnya. Ayahnya, H. Kartoredjo seorang mantan polisi zaman Belanda yang bekerja di Pabrik Gula Mojoagung, justru mendambakan anak-anaknya menjadi guru.

Rumiah muda pun sempat menggantungkan asanya pada profesi guru. Namun, garis tangan berkata lain.

Baca Juga :  Di Tengah Sorotan Publik, Survei ETOS Catat Kepercayaan Masyarakat ke Polda Metro Jaya di Atas 70 Persen

Dunia olahraga yang ia geluti sejak SMP justru menjadi jembatan menuju karier yang lebih besar.

Dari Emas SEA Games Menuju Sekolah Perwira

Sebelum berseragam cokelat, Rumiah adalah seorang atlet nasional berprestasi. Saat menempuh kuliah di Sekolah Tinggi Olah Raga (IKIP) Surabaya (kini Unesa) pada tahun 1975, ia memperkuat tim nasional softball Indonesia.

Puncaknya, ia sukses menyumbangkan medali emas dalam ajang SEA Games.

Semangat juang di lapangan olahraga itu ia bawa ke dunia militer. Sebelum lulus kuliah, ia memutuskan masuk ke Sekolah Perwira Militer Sukarelawan (Sepa Milsukwan) ABRI pada tahun 1978.

Sejak itulah, kariernya di kepolisian terus menanjak, mulai dari Komandan Peleton (Danton) Seba Polwan hingga dipercaya menjadi Kepala Sekolah Polwan pada tahun 1999.

Sinergi Kepemimpinan Perempuan di Banten

Penunjukan Rumiah sebagai Kapolda Banten kala itu dianggap sebagai langkah strategis yang visioner.

Kapolri berharap Rumiah mampu bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Banten, yang saat itu gubernurnya juga dijabat oleh seorang wanita, Ratu Atut Chosiyah.

Baca Juga :  Di Dinas Ini Urusan Bukan Beban, Kopi dan WiFi Jadi Teman

“Menjadi Kapolda adalah tantangan besar, namun saya bangga bisa mewakili Polwan di posisi ini,” ungkap ibu dua anak ini dalam sebuah kesempatan.

Selama masa jabatannya, Rumiah dikenal sebagai pemimpin yang tegas namun tetap memiliki pendekatan humanis.

Purnatugas dengan Kepala Tegak
Rumiah terus membekali diri dengan pendidikan tinggi, mulai dari Selapa Polri (1990), Seskoad (1995), hingga Sespati Polri (2003).

Sebelum pensiun, ia mengakhiri masa pengabdiannya dengan menyerahkan jabatan kepada Brigjen Pol Agus Kusnadi dalam sebuah upacara sertijab di Rupatama Mabes Polri.

Kini, meskipun telah purnawirawan, jejak Rumiah Kartoredjo tetap menjadi inspirasi bagi ribuan Polwan di seluruh Indonesia.

Selain itu, ia membuktikan bahwa seorang gadis dari kota kecil, yang semula hanya bermimpi menjadi guru, mampu mengukir sejarah sebagai jenderal perempuan pertama yang memimpin Kepolisian Daerah di Indonesia.

Penulis : Nasrul Koto Psu

Berita Terkait

Zakat sebagai Instrumen Politik Umat
Kecaman Ajakan Meninggalkan Zakat || Aceng Syamsul Hadie: Lebih Baik Nasaruddin Umar Mundur, Rakyat Sudah Muak dan Tidak Percaya.
Aceng Syamsul Hadie: Segera Keluar dari BoP ala Trump, Indonesia Jangan Jadi Kaki Tangan Blok Geopolitik Barat
Mendengar Kisah Suka-Duka Wartawan Era 80–90-an: Ketika Idealisme Menjadi Nafas Profesi
Laboratorium Sosial: Pemolisian Berbasis Riset dan Keilmuan
Di Tengah Sorotan Publik, Survei ETOS Catat Kepercayaan Masyarakat ke Polda Metro Jaya di Atas 70 Persen
Jakarta Utara: Antara Pesisir, Kepentingan, dan Masa Depan Kota

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 19:45 WIB

Rumiah Kartoredjo: Jejak Emas Atlet Nasional yang Jadi Kapolda Perempuan Pertama di Indonesia

Jumat, 6 Maret 2026 - 23:12 WIB

Zakat sebagai Instrumen Politik Umat

Kamis, 5 Maret 2026 - 12:00 WIB

Kecaman Ajakan Meninggalkan Zakat || Aceng Syamsul Hadie: Lebih Baik Nasaruddin Umar Mundur, Rakyat Sudah Muak dan Tidak Percaya.

Senin, 2 Maret 2026 - 12:44 WIB

Aceng Syamsul Hadie: Segera Keluar dari BoP ala Trump, Indonesia Jangan Jadi Kaki Tangan Blok Geopolitik Barat

Jumat, 27 Februari 2026 - 16:24 WIB

Mendengar Kisah Suka-Duka Wartawan Era 80–90-an: Ketika Idealisme Menjadi Nafas Profesi

Berita Terbaru