Aceh Utara, Suararealitas.co – Senyum bahagia merekah di wajah warga Desa Kuala Cangkoy, Kabupaten Aceh Utara. Setelah berbulan-bulan bertahan pascabanjir yang merendam rumah dan memaksa mereka mengungsi, secercah harapan kini hadir melalui pembangunan hunian tetap oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam).
Di atas lahan yang sebelumnya dipenuhi puing dan lumpur, kini berdiri rumah-rumah berukuran 6×6 meter yang kokoh dan tertata dalam satu kluster. Dari total 104 unit yang ditargetkan, sebanyak 39 rumah telah rampung dibangun dan instalasi listriknya telah terpasang. Saat ini, proses penyelesaian instalasi air tengah dilakukan sebelum rumah-rumah tersebut siap dihuni.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, memastikan pembangunan berjalan sesuai rencana. “Alhamdulillah, saya memantau langsung proses pembangunan huntap ini berjalan lancar, mulai dari bongkar material di Pelabuhan Belawan hingga tiba di Kuala Cangkoy dan dikerjakan dengan aman. Saya optimistis seluruh target dapat diselesaikan akhir Maret 2026,” ujar Menko Polkam, (19/02/2026).
Ia berharap masyarakat dapat segera menempati rumah tersebut, mengingat akan segera memasuki bulan suci Ramadan, sehingga dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan nyaman, termasuk memanfaatkan masjid yang turut dibangun dalam kawasan tersebut. “Semoga rumah-rumah berikutnya segera selesai agar masyarakat memperoleh hunian tetap yang layak,” kata Menko Polkam Djamari.
Menko Djamari menyampaikan, huntap ini sebagai bentuk kontribusi Kemenko Polkam yang bekerja sama dengan Bupati Aceh Utara serta pihak-pihak lain yang membantu. “Semoga segera bisa membantu saudara-saudara kita yang terdampak banjir yang lalu, memberi harapan dan segera bangkit menatap masa depan,” katanya.
Dukungan penuh juga datang dari jajaran TNI di wilayah tersebut. Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, menegaskan bahwa Korem bersama Polresta Aceh Utara mendukung sepenuhnya program ini. “Kami memastikan seluruh proses, mulai dari distribusi material hingga penyelesaian pembangunan, berjalan aman dan lancar. Ini bagian dari komitmen kami membantu masyarakat bangkit dari bencana,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Utara telah mengambil langkah konkret untuk mempercepat pembangunan. Pemkab menyediakan lahan dan memastikan legalitasnya, mengoordinasikan pemasangan listrik, serta menjamin ketersediaan air bersih di lokasi. Seluruh perangkat daerah telah diinstruksikan untuk bekerja terpadu agar pembangunan huntap ini tepat waktu dan tepat sasaran.
“Bagi kami, hunian tetap ini bukan sekadar bangunan, tetapi simbol hadirnya negara dan pemerintah daerah dalam mengembalikan rasa aman, martabat, dan harapan masyarakat. Kami akan terus mengawal proses ini hingga masyarakat benar-benar dapat menempati hunian yang layak dan menjalani kehidupan yang lebih sejahtera,” tegas Bupati.
Hunian tetap ini dibangun dengan struktur, dinding, dan atap berbahan baja galvanis yang tahan karat dan tahan gempa. Keunggulannya terletak pada sistem knock down atau Rumah Bangun Cepat, sehingga proses konstruksi lebih efisien. Setiap unit juga dilengkapi dua kasur, meja makan, kursi, televisi, serta kamar mandi dengan fasilitas lengkap.
Bagi warga, rumah-rumah ini bukan sekadar bangunan. Ini adalah simbol dimulainya kembali kehidupan yang sempat terhenti.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, Bapak Menko Polkam, Bapak Danrem, dan Bapak Bupati yang sudah membantu kami,” ujar Armiati Dani, perwakilan warga Kampung Muara Cangkoy dengan mata berkaca-kaca. Ia berharap para pemimpin bangsa selalu diberikan kesehatan.
Selain 104 hunian tetap, di kawasan tersebut juga dibangun satu balai desa dan satu masjid sebagai pusat aktivitas sosial dan ibadah masyarakat. Program ini merupakan kolaborasi Kemenko Polkam bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, didukung unsur TNI AD, Polri, dan berbagai pihak lainnya.
Bagi warga Kuala Cangkoy, hunian tetap ini bukan hanya tempat berteduh. Ini adalah awal baru — bangkit dari bencana, menata masa depan, dan meneguhkan keyakinan bahwa negara hadir di tengah kesulitan rakyatnya.



































