Jakarta, Suararealitas.co – PT Lion Metal Works Tbk (LION) menggelar Paparan Publik Insidentil pada 13 Februari 2026 melalui virtual zoom, menyusul lonjakan signifikan harga saham perseroan pada awal bulan ini. Paparan disampaikan langsung oleh Direktur Utama Cheng Yong Kim sebagai bentuk keterbukaan informasi kepada investor dan publik.
Dalam paparannya, Cheng Yong Kim Direktur Utama Lion Metal Work, menjelaskan profil usaha, dinamika pergerakan saham, kinerja keuangan terkini, serta penjelasan manajemen atas volatilitas harga saham yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Saham Melonjak, Sempat Disuspensi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Harga saham LION tercatat mengalami kenaikan tajam dalam beberapa hari perdagangan. Pada 4 Februari 2026, saham ditutup di level Rp390 dengan volume 97.100 saham. Sehari kemudian, 5 Februari, harga melonjak ke Rp486 atau naik 24,62 persen dengan volume 5,55 juta saham.
Kenaikan berlanjut pada 6 Februari 2026 ke level Rp605 atau menguat 24,49 persen dengan volume 11,50 juta saham. Pada 9 Februari 2026, saham kembali naik menjadi Rp710 atau menguat 17,36 persen dengan volume 9,42 juta saham.
Dari harga penutupan 6 Februari sebesar Rp605 ke level tertinggi 9 Februari sebesar Rp740, terjadi kenaikan Rp135 atau sekitar 22,31 persen.
Seiring lonjakan tersebut, BEI melakukan suspensi perdagangan saham LION pada 10 Februari 2026. Setelah suspensi dibuka pada 11 Februari, saham sempat menyentuh Rp1.015 sebelum ditutup di level Rp655.
Menanggapi hal tersebut, Cheng Yong Kim menegaskan perseroan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan maupun keputusan investasi pemodal.
“Perseroan tidak memiliki rencana aksi korporasi dalam waktu dekat dan tidak mengetahui adanya aktivitas tertentu dari pemegang saham yang mempengaruhi pergerakan harga,” jelasnya. Manajemen menyebut pergerakan saham kemungkinan terjadi karena mekanisme pasar.
Kinerja Tertekan hingga Kuartal III 2025
Dari sisi fundamental, kinerja LION hingga 30 September 2025 (tidak diaudit) menunjukkan tekanan.
Penjualan tercatat Rp243,61 miliar, turun 16,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp293,25 miliar. Laba kotor juga turun 40,08 persen menjadi Rp43,73 miliar dari Rp72,97 miliar.
Perseroan membukukan rugi usaha sebesar Rp33,70 miliar, berbalik dari laba usaha Rp915,82 juta pada periode yang sama tahun 2024. Rugi tahun berjalan tercatat Rp26,10 miliar, dibandingkan laba Rp2,28 miliar pada periode sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset per 30 September 2025 tercatat Rp608,27 miliar, turun dari posisi 31 Desember 2024 sebesar Rp705,78 miliar. Total liabilitas sebesar Rp135,92 miliar dan ekuitas Rp472,35 miliar.
Cheng Yong Kim mengakui kondisi pasar manufaktur yang melemah turut memengaruhi kinerja perseroan.
Strategi Efisiensi dan Modernisasi
Untuk memperbaiki kinerja, LION melakukan sejumlah langkah strategis, termasuk peningkatan kualitas produksi dan modernisasi peralatan.
Perseroan melakukan pengadaan mesin laser cutting serta pengelasan robotik guna meningkatkan efisiensi dan daya saing. Selain itu, melalui entitas anak PT Singa Purwakarta Jaya, perseroan berupaya mengoptimalkan aset dengan memasarkan lahan di kawasan industri Purwakarta, Jawa Barat.
Paparan publik ini menegaskan komitmen manajemen dalam menjaga transparansi di tengah volatilitas saham, sekaligus memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi fundamental dan langkah strategis perseroan ke depan.




































