Tancap Gas ke Jalur Salah: KPA Kritik Arah Kebijakan Agraria Nasional

- Jurnalis

Kamis, 15 Januari 2026 - 14:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Jakarta, Suararealitas.co – Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) merilis Catatan Akhir Tahun 2025 dan memberikan penilaian kritis terhadap arah kebijakan agraria pada tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran. Laporan tersebut menggambarkan pemerintah bergerak cepat dalam agenda pembangunan, namun memilih jalur yang justru berseberangan dengan mandat reforma agraria, sehingga memperlebar ketimpangan penguasaan tanah dan memperbanyak ledakan konflik di tingkat lokal.

Peluncuran laporan tahunan yang digelar di Jakarta, Kamis, 15 Januari 2026, mengangkat tema “Tancap Gas di Jalur yang Salah” dan dipresentasikan oleh Sekretaris Jenderal KPA, Dewi Kartika. Melalui catatan ini, KPA merangkum dinamika agraria sepanjang 2025, sejak pelantikan pemerintahan baru pada Oktober 2024 hingga penutupan tahun, termasuk evaluasi atas Asta Cita dan arah politik pembangunan nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dewi Kartika menilai bahwa komitmen reforma agraria tidak terlihat dalam prioritas kebijakan. Alih-alih mendistribusikan tanah dan membenahi ketimpangan, pemerintah justru mempercepat pemberian konsesi berskala besar, membuka akses baru pada kawasan hutan, serta mendorong proyek pangan dan energi yang didominasi modal besar dan korporasi.

KPA menilai situasi tersebut menciptakan paradoks kebijakan negara. Di permukaan, negara menyampaikan narasi percepatan pembangunan dan kemandirian ekonomi. Namun di lapangan, struktur penguasaan tanah yang timpang semakin menguat, dan jutaan warga terdampak kehilangan akses ke sumber kehidupan mereka.

Baca Juga :  Pra-Konvensyen DMDI Jakarta Gelar Seminar Implementasi Dakwah dan Budaya Melayu di Indonesia

Selama Januari–Desember 2025, KPA mencatat 341 kasus konflik agraria, meningkat sekitar 15 persen dibanding tahun sebelumnya. Konflik tersebut menyeret lebih dari 123 ribu keluarga dan mencakup hampir satu juta hektare wilayah, dengan wilayah perkebunan menjadi pemicu terbesar, disusul infrastruktur, pertambangan, kehutanan, hingga penggunaan kawasan untuk keperluan militer.

KPA juga menggarisbawahi bahwa meningkatnya intervensi aparat militer dan kepolisian dalam penanganan sengketa tanah memperburuk ketegangan sosial. Pelibatan aparat dalam proyek strategis dan operasi penertiban kawasan tidak hanya mengundang kriminalisasi warga dan aksi kekerasan, tetapi juga mempersempit ruang musyawarah dan perundingan sebagai solusi utama konflik.

Menurut Dewi, orientasi pembangunan seperti ini semakin menjauhkan masyarakat kecil petani gurem, komunitas adat, hingga nelayan dari tanah dan ruang hidupnya. Mereka terdorong keluar dari wilayah garapan demi membuka jalan bagi investasi yang diklaim mendukung ketahanan pangan dan kemandirian energi.

Lebih jauh, KPA menilai bahwa krisis agraria tahun 2025 tak bisa dilepaskan dari krisis ekologis. Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat disebut bukan sekadar bencana alam, tetapi akumulasi kerusakan wilayah dan konflik pengelolaan ruang yang diabaikan.

Baca Juga :  H.Kamsa Angkat Bicara Untuk Dukung H. Mahfud Sebagai Camat Kronjo

Laporan KPA menegaskan bahwa konflik agraria tidak bersifat insidental, melainkan mencerminkan konsentrasi kekuasaan ekonomi-politik dan militer dalam penguasaan sumber daya alam. Sementara itu, klaim capaian reforma agraria pemerintah dinilai masih berhenti pada pembagian sertifikat tanah, tanpa menyelesaikan akar masalah berupa sengketa struktural dan perampasan ruang hidup rakyat.

Dalam evaluasinya, KPA menyebut 2025 sebagai tahun ketika paradoks agraria semakin dirapikan menjadi praktik kebijakan negara, di mana janji redistribusi tanah justru berjalan beriringan dengan kebijakan yang melanggengkan krisis.

KPA menyerukan pemerintah untuk mengubah arah kebijakan, menghentikan militerisasi sektor agraria, dan menempatkan penyelesaian konflik sebagai pijakan utama pembangunan nasional. Organisasi ini menegaskan bahwa reforma agraria sejati adalah opsi strategis untuk mengatasi akar ketimpangan, mengembalikan hak-hak rakyat, dan memastikan pembangunan yang adil serta demokratis.

Berita Terkait

Bawa Misi Peningkatan Prestasi, 208 Atlet Pelajar Jakarta Utara Resmi Dilepas ke POPPROV VI DKI Jakarta 2026
Polri Berangkatkan 403 Personel Satgas Edukasi Karhutla Hari Ini
Praperadilan Keempat RS Ditolak, Polda Metro Jaya Hormati Putusan Hakim
Apel Sabuk Kamtibmas, Sinergi Polri dan Satpam Perkuat Kamtibmas di Pelabuhan Tanjung Priok
Polri Siap Berikan Pelayanan agar Penyampaian Aspirasi Berjalan Damai, Tertib dan Kondusif
Edy Mulyanto Ajak Pelaku Usaha Jadi Pelopor Pemilahan Sampah di Jakarta Utara
Hadir Untuk Masyarakat, PLN Indonesia Power UBP Banten 3 Lontar Dukung Peresmian Jembatan Merah Putih dan Salurkan Bantuan Sosial
JJOS Patroli Cipta Kondisi Polres Pelabuhan Tanjung Priok Sasar Gangguan Kamtibmas, Periksa Kendaraan hingga Imbau Pengemudi Trailer

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 18:30 WIB

Bawa Misi Peningkatan Prestasi, 208 Atlet Pelajar Jakarta Utara Resmi Dilepas ke POPPROV VI DKI Jakarta 2026

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:30 WIB

Polri Berangkatkan 403 Personel Satgas Edukasi Karhutla Hari Ini

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:23 WIB

Praperadilan Keempat RS Ditolak, Polda Metro Jaya Hormati Putusan Hakim

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Apel Sabuk Kamtibmas, Sinergi Polri dan Satpam Perkuat Kamtibmas di Pelabuhan Tanjung Priok

Rabu, 26 Agustus 2026 - 16:25 WIB

Edy Mulyanto Ajak Pelaku Usaha Jadi Pelopor Pemilahan Sampah di Jakarta Utara

Berita Terbaru

Kabar Polisi

Polri Berangkatkan 403 Personel Satgas Edukasi Karhutla Hari Ini

Rabu, 26 Agu 2026 - 17:30 WIB