SPMB Banten, Kepala Sekolah Dikepung Dendam ?

- Jurnalis

Rabu, 2 Juli 2025 - 12:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KOTA TANGERANG, Suararealitas.co – Di Kota provinsi Banten, pelaksanaan SPMB (Seleksi Penerimaan Murid Baru) tak hanya menjadi agenda rutin pendidikan, tapi juga medan penuh tekanan bagi para kepala SMA dan SMK Negeri.

Di satu sisi, jabatan mereka dipertaruhkan jika tak patuh pada instruksi atau gagal mengelola gejolak.

Di sisi lain, mereka harus menjaga relasi dengan “rekanan” mulai dari lingkungan sekitar sekolah, oknum legislatif, oknum LSM, oknum aparat penegak hukum, hingga kalangan oknum jurnalis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Distribusi bangku sekolah tak sepenuhnya ditentukan oleh zonasi atau capaian akademik. Ada kepentingan informal yang menyusup dalam bentuk titipan, intervensi, bahkan tekanan halus yang terus membayangi.

Salah seorang kepala SMA Negeri di Kota Tangerang mengakui tekanan itu datang dari berbagai arah.

“Kami berusaha menjaga agar prosesnya tetap sesuai aturan. Tapi tekanan itu nyata dari tokoh masyarakat, oknum LSM, bahkan ada juga yang mengatasnamakan media. dan oknum APH Kalau kita terlalu kaku, bisa-bisa jabatan ikut digoyang. Tapi kalau terlalu longgar, integritas taruhannya,” ujarnya.

Baca Juga :  Toko Kelontong Nekat Jual Miras Ilegal di Depan Masjid Bersejarah Bekasi, Penjaga Akui Pemiliknya Oknum Anggota Berseragam Aktif

Kekhawatiran lainnya adalah berubahnya posisi “rekanan” menjadi “lawan” hanya karena anak kandung mereka tidak diterima.

“Kita paham betul, namanya orangtua pasti ingin memperjuangkan anaknya. Dan sebagian besar yang minta tolong itu ya bener anak kandungnya sendiri. Tapi kalau enggak masuk, ya bisa berubah sikap. Hari ini mitra, besok jadi Kontra,” tambahnya.

Yang lebih meresahkan adalah potensi kriminalisasi administratif.

“Kesalahan teknis sedikit saja bisa dijadikan alasan untuk menjatuhkan kami. Seolah-olah dicari-cari celah agar kami tersandung. Di kondisi sekarang, kepala sekolah kentut saja bisa-bisa jadi persoalan. Kalau ada yang mau main framing, bisa viral, bisa dilaporkan, bisa dipanggil,” tuturnya getir.

Kekecewaan juga datang dari luar. Seorang jurnalis lokal berinisial Y yang juga orangtua siswa mengaku kecewa karena anaknya tak dibantu masuk sekolah negeri.

“Saya udah bantu sekolah ini banyak hal. Tapi sekarang saya enggak dibantu, saya anggap ini pengkhianatan. Ke depan, saya akan berdiri sebagai oposisi. Semua kebijakan sekolah akan saya kritisi habis-habisan,” tegasnya.

Situasi makin rumit ketika beredar kabar bahwa seorang legislator dicopot dari posisi pimpinan alat kelengkapan dewan. Pemicunya: ia dianggap terlalu jauh membantu konstituen dalam urusan sekolah.

Baca Juga :  Pangdam IX/Udayana Asah Kemampuan Menembak di Praja Rakcaka Shooting Range

“Kalau benar itu sebabnya, ya bayangkan saja dampaknya. Pasti ada luka. Dan luka di dunia politik biasanya berbalas, bukan diredakan. Ini yang bikin suasana SPMB makin penuh tekanan diam-diam,” kata salah satu sumber di DPRD Banten.

Fenomena ini tak hanya terjadi di Kota Tangerang, salahseorang seorang kepala SMA Negeri di Tangerang Selatan menyebut tekanan saat PPDB sudah jadi hal tahunan.

“Kami terbiasa menghadapi permintaan-permintaan itu. Tapi tetap saja beban mentalnya besar. Kita dipaksa jadi diplomat, pemadam kebakaran, dan penanggung jawab penuh. Padahal enggak semua bisa kita bantu,” ujarnya.

Senada, kepala SMK Negeri di Kabupaten Tangerang memilih diam saat musim penerimaan siswa baru.

“Jujur, kami lebih banyak diam. Terlalu vokal nanti dibilang melawan. Terlalu nurut, nanti dibilang main belakang. Bingung. Mau fokus urus mutu sekolah, tapi terus diganggu urusan luar kelas,” katanya.

Berita Terkait

Rapat dengan DPR, Mendagri Jelaskan Capaian Kinerja Strategis Kemendagri
400 Siswa Terbaik Nasional Ikuti Seleksi Terpusat SMA Kemala Taruna Bhayangkara di Akpol Semarang
Momen Mengharukan, Tiga Eks OPM Cium Merah Putih dan Kembali ke NKRI
Pembersihan Lumpur dan Rehabilitasi Sawah Terus Diakselerasi Satgas PRR
Patroli KRYD Polres Priok, Cegah Gangguan Kamtibmas, Jamin Kegiatan Kepelabuhan Aman Kondusif
Mindhunter Jalur Hukum: Membedah Niat, Plot Twist Emosi, dan Tragedi “Khilaf” di Balik Tindak Pidana
Pemuda Dipasung Rantai Besi Selama 20 Tahun di Tengah Hutan, Akhirnya Dievakuasi Purnomo Belajar Baik
Wakapolda PMJ Minta Personel Layani Warga Secara Humanis di Pasar Murah Monas

Berita Terkait

Senin, 30 Maret 2026 - 17:04 WIB

Rapat dengan DPR, Mendagri Jelaskan Capaian Kinerja Strategis Kemendagri

Senin, 30 Maret 2026 - 08:24 WIB

400 Siswa Terbaik Nasional Ikuti Seleksi Terpusat SMA Kemala Taruna Bhayangkara di Akpol Semarang

Minggu, 29 Maret 2026 - 22:29 WIB

Momen Mengharukan, Tiga Eks OPM Cium Merah Putih dan Kembali ke NKRI

Minggu, 29 Maret 2026 - 11:45 WIB

Pembersihan Lumpur dan Rehabilitasi Sawah Terus Diakselerasi Satgas PRR

Minggu, 29 Maret 2026 - 11:36 WIB

Patroli KRYD Polres Priok, Cegah Gangguan Kamtibmas, Jamin Kegiatan Kepelabuhan Aman Kondusif

Berita Terbaru

Ekonomi & Bisnis

Komitmen Layanan Prima, BRI Hayam Wuruk Dukung Pembaruan Data Nasabah

Senin, 30 Mar 2026 - 15:34 WIB