Tangerang, (14/10) Suararealitas.co — PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART atau Perseroan) bersama PT Enviro Mas Sejahtera mengembangkan SOMYA, mesin pengolah sampah organik menjadi kompos secara cepat (rapid digester). Teknologi ini menggabungkan keahlian pengolahan lingkungan dengan kemampuan manufaktur untuk menghadirkan solusi pengelolaan sampah dari sumbernya.
Pengembangan SOMYA menjadi bagian dari strategi PART dalam memperluas portofolio bisnis di luar komponen otomotif sekaligus menjajaki peluang usaha di sektor pengelolaan sampah.
Dalam kunjungannya, Wali Kota Tangerang meninjau langsung mesin SOMYA untuk mengenal teknologi, fungsi, dan potensi penerapannya dalam mendukung pengelolaan sampah perkotaan. Kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pengembangan produk serta memahami kebutuhan pengelolaan sampah di tingkat daerah.
Kolaborasi PART dan PT Enviro Mas Sejahtera menggabungkan kapabilitas manufaktur dan teknologi pengolahan lingkungan untuk menghadirkan solusi penanganan sampah organik rumah tangga sejak dari sumbernya. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat penampungan sementara (TPS) maupun tempat pemrosesan akhir (TPA), sehingga membantu menekan risiko kelebihan kapasitas tempat pembuangan sampah.
SOMYA Olah Sampah Organik dalam Delapan Jam
Sampah organik rumah tangga menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan sampah perkotaan. Sampah jenis ini dapat membusuk dan menimbulkan bau tidak sedap, menghasilkan air lindi yang berpotensi mencemari tanah dan air tanah, serta melepaskan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
SOMYA dikembangkan untuk membantu mengatasi persoalan tersebut melalui pengolahan sampah organik di hulu, yakni sejak dari rumah tangga atau lokasi penghasil sampah. Mesin ini mengolah sampah organik menjadi kompos dalam waktu sekitar delapan jam, dengan kemampuan menyusutkan volume atau bobot sampah hingga 95 persen melalui pengurangan kandungan air.
Melalui proses tersebut, sampah organik dapat diolah lebih cepat sebelum masuk ke sistem pengangkutan dan pembuangan akhir. Penerapan teknologi ini diharapkan dapat mendukung pengurangan timbulan sampah sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil pengolahan menjadi kompos.
Sebelum kunjungan Wali Kota Tangerang, mesin SOMYA telah dipasarkan dan digunakan oleh sejumlah pelanggan dari berbagai sektor, termasuk perhotelan, fasilitas pengelolaan sampah, fasilitas publik, dan perusahaan.
Berdasarkan data pengguna yang tersedia, mesin SOMYA telah terpasang di sejumlah lokasi, antara lain TUI BLUE Berawa, Yayasan Valentina Rose Shelter, PT Suprabari Mapanindo Mineral, Cau Chocolates, Nirmala Hotels, PLN UPT Bali, Quetnzo Beach Resort, TPS 3R Sidakarya, The Pakubuwono Signature, Villa Pink, Balai Warga RW 06 Sudimara Pinang, SOMYA Waste Facility, PT Kereta Api Indonesia di Stasiun Gambir, serta rumah dinas Wakil Panglima TNI.
Daftar tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan SOMYA telah menjangkau beragam kebutuhan operasional, mulai dari fasilitas komersial hingga fasilitas publik. Kapasitas mesin yang digunakan juga bervariasi, mulai dari 50 kilogram hingga satu ton, sesuai dengan tipe produk yang tercatat dalam data instalasi.
Perluas Portofolio Bisnis Non-Otomotif
Bagi PART, pengembangan SOMYA sejalan dengan strategi diversifikasi usaha melalui pemanfaatan kemampuan manufaktur Perseroan untuk memproduksi mesin dan peralatan industri non-otomotif.
Perseroan tetap menjalankan bisnis utama di bidang komponen otomotif untuk kendaraan roda dua dan roda empat, sembari membuka peluang pertumbuhan melalui pengembangan produk yang menjawab kebutuhan sektor lain, termasuk pengelolaan lingkungan.

Kebutuhan terhadap solusi pengolahan sampah membuka peluang bagi PART dan PT Enviro Mas Sejahtera untuk menjajaki kerja sama dengan calon pengguna dari sektor industri maupun pemerintah daerah. Penerapan SOMYA selanjutnya akan mempertimbangkan kesesuaian teknologi dengan kebutuhan operasional, hasil evaluasi teknis, kelayakan ekonomi, serta persyaratan dan mekanisme pengadaan yang berlaku.
Melalui pengembangan dan komersialisasi SOMYA, PART berharap dapat memperluas sumber pendapatan dari segmen non-otomotif. Namun, kontribusi produk tersebut terhadap kinerja Perseroan akan bergantung pada realisasi penjualan, perolehan kontrak, kesiapan kapasitas produksi, serta keberhasilan pengembangan pasar.
Kolaborasi ini sekaligus membuka peluang pemanfaatan kemampuan industri dalam negeri untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah melalui pengembangan produk manufaktur yang relevan dengan kebutuhan lingkungan dan industri.
PART Siapkan Right Issue Maksimal Rp200 Miliar
Sejalan dengan upaya mendukung pengembangan usaha dan pengelolaan permodalan, PART berencana menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada minggu pertama Desember 2026.
Dalam RUPSLB tersebut, Perseroan berencana meminta persetujuan pemegang saham atas rencana Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right issue dengan nilai sebanyak-banyaknya Rp200 miliar, serta rencana pembelian kembali saham (buyback) sebanyak-banyaknya 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan pada tanggal RUPSLB, dengan anggaran maksimal Rp10 miliar.
Dana hasil right issue, setelah dikurangi biaya emisi, direncanakan terutama untuk memperkuat modal kerja. Penggunaannya mencakup pembelian bahan baku, peningkatan aktivitas produksi, kebutuhan operasional, serta pengembangan usaha Perseroan.
Pelaksanaan right issue ditargetkan pada kuartal I 2027 setelah memperoleh persetujuan pemegang saham dan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sementara itu, pelaksanaan buyback direncanakan secara bertahap dalam jangka waktu paling lama 12 bulan setelah memperoleh persetujuan RUPSLB.
Kedua rencana aksi korporasi tersebut akan dilaksanakan dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kesiapan dan kebutuhan Perseroan, ketersediaan dana, serta ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Melalui pengembangan SOMYA dan rencana penguatan permodalan tersebut, PART berupaya memperluas peluang pertumbuhan usaha sekaligus mengoptimalkan kemampuan manufaktur untuk menjawab kebutuhan pasar di luar sektor otomotif.












