Kementerian PPPA Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perlindungan Inklusif Anak dengan Down Syndrome

- Jurnalis

Senin, 13 April 2026 - 12:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Jakarta, Suararealitas.co — Berdasarkan hasil Survey Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR), terjadi peningkatan signifikan prevalensi kekerasan terhadap anak usia 13–17 tahun dengan disabilitas, termasuk Down Syndrome. Angkanya mencapai 83,85 persen pada 2024, meningkat tajam dibandingkan 49,40 persen pada 2021.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, dalam pembukaan webinar nasional bertajuk “Menjadi Sahabat Anak dengan Down Syndrome: Kenali, Pahami, dan Lindungi” pada Rabu (8/4/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Webinar ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Down Syndrome Sedunia 2026 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Yayasan NLR Indonesia dan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome.

Menteri Arifah menegaskan bahwa perlindungan anak dengan Down Syndrome merupakan tanggung jawab bersama. Ia menekankan bahwa tidak boleh ada satu pun anak dengan disabilitas yang menjadi korban kekerasan.

“Momentum ini harus kita jadikan sebagai penguat komitmen untuk menghapus stigma dan memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang aman serta inklusif,” tegasnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Program Manager Disability, Equity, and Inclusion (DEI) Workstream NLR Indonesia, Fahmi Arizal, menekankan pentingnya pendekatan pemberdayaan. Menurutnya, anak dengan Down Syndrome harus dipandang sebagai individu yang memiliki potensi untuk mandiri dan berkontribusi secara sosial, selama didukung oleh lingkungan yang inklusif dan ramah.

Baca Juga :  BRI BO Panglima Polim Laksanakan Program Sosial untuk Masyarakat Kurang Mampu

Webinar yang digelar secara daring ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kapasitas para pemangku kepentingan terkait karakteristik serta perlindungan anak dengan Down Syndrome dari kekerasan dan diskriminasi. Kegiatan ini diikuti lebih dari 700 peserta dari berbagai instansi, termasuk dinas Kementerian PPPA dan Kementerian Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BPBD, asosiasi perusahaan, serta berbagai organisasi lainnya.

Sejumlah narasumber turut hadir membahas Down Syndrome dari berbagai perspektif, mulai dari aspek medis, pertumbuhan fisik dan emosional, interaksi sosial, hingga pemberdayaan. Di antaranya dr. Syarif Rohimi, SpA(K), dr. Aditya Suryansyah, SpA(K), Ketua Umum POTADS Eliza Octavianti Rogi, serta pelaku usaha Rocky J. Pesik.

Down Syndrome merupakan kelainan genetik yang disebabkan oleh adanya kromosom ekstra pada kromosom 21, atau dikenal sebagai Trisomi 21. Kondisi ini terjadi pada sekitar 1 dari 700–1.000 kelahiran hidup dan berdampak pada keterlambatan pertumbuhan fisik maupun mental anak. Selain ciri fisik khas, penyandang Down Syndrome juga memiliki spektrum kelainan organ yang luas, di mana sekitar 40–60 persen di antaranya mengalami penyakit jantung bawaan.

Baca Juga :  Indoguna Utama Perkuat Pasar dan Kemitraan UMKM Lewat SIAL InterFood 2025

Meski penyebab pastinya belum diketahui, deteksi dini serta penanganan medis multidisipliner yang terencana sangat penting untuk menurunkan angka kesakitan, sekaligus meningkatkan kualitas dan harapan hidup penyandang Down Syndrome.

Dalam webinar tersebut, sejumlah rekomendasi turut disampaikan, antara lain:

  • Peningkatan edukasi dan literasi publik untuk mengurangi stigma;
  • Penguatan kapasitas orang tua dalam pengasuhan anak dengan Down Syndrome;
  • Pengembangan layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih inklusif;
  • Penyediaan ruang partisipatif bagi anak dengan disabilitas untuk menyuarakan hak dan kebutuhannya;
  • Penguatan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, masyarakat, tenaga profesional, dan dunia usaha.

Tentang Yayasan NLR Indonesia

Yayasan NLR Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang telah bekerja sejak 1978 dalam penanggulangan kusta dan dampaknya di Indonesia. NLR Indonesia bermitra dengan berbagai pihak untuk mewujudkan Indonesia bebas kusta, sekaligus memperjuangkan pemenuhan hak anak dan kaum muda penyandang disabilitas akibat kusta.

NLR Indonesia juga merupakan bagian dari NLR International Alliance bersama organisasi dari India, Brasil, Nepal, dan Mozambik, dengan visi bersama: Until No Leprosy Remains.

Berita Terkait

Funfest IKA ITS 2026: Dari Silaturahmi Alumni ke Aksi Sosial dan Pemberdayaan UMKM
Rektor ITS Dorong Hilirisasi Riset dan Penguatan Peran Alumni di Funfest IKA ITS 2026
Revitalisasi Satuan Pendidikan: BEM PTMAI Bukti Tercapainya Menuju Indonesia Emas
Pembacaan Agenda Politik Perempuan dan Rekomendasi Perempuan: Memimpin Keadilan Transformatif dan Ekologis
Halal Bihalal LPH Hidayatullah Dorong Sinergi Menuju Indonesia Pusat Industri Halal Dunia
KKP Hentikan Sementara Operasional UPI di Denpasar untuk Lindungi Tahura Ngurah Rai
Investasi USD 600 Juta Masuk ke Indonesia, Pabrik Melamin Pertama dan Terbesar dengan Kapasitas 120.000 TPA Dibangun di KEK Gresik
Palang Merah Indonesia (PMI) Kerja Sama RSUD Tigaraksa Kembali Gelar Donor Darah Jaga Stok Tetap Aman

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 12:50 WIB

Kementerian PPPA Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perlindungan Inklusif Anak dengan Down Syndrome

Sabtu, 11 April 2026 - 12:53 WIB

Funfest IKA ITS 2026: Dari Silaturahmi Alumni ke Aksi Sosial dan Pemberdayaan UMKM

Sabtu, 11 April 2026 - 11:57 WIB

Rektor ITS Dorong Hilirisasi Riset dan Penguatan Peran Alumni di Funfest IKA ITS 2026

Sabtu, 11 April 2026 - 08:00 WIB

Revitalisasi Satuan Pendidikan: BEM PTMAI Bukti Tercapainya Menuju Indonesia Emas

Jumat, 10 April 2026 - 10:16 WIB

Pembacaan Agenda Politik Perempuan dan Rekomendasi Perempuan: Memimpin Keadilan Transformatif dan Ekologis

Berita Terbaru