Jakarta, Suararealitas.co – PT Garam (Persero) mempertegas komitmennya dalam mendukung kemandirian industri nasional melalui pengembangan proyek hilirisasi garam strategis bersama Pertamina di Balikpapan. Kolaborasi ini diproyeksikan menghasilkan hingga 1 juta ton garam industri per tahun, sekaligus menjadi langkah konkret dalam mengurangi ketergantungan impor sektor industri.
Sekretaris Perusahaan PT Garam, Indra Kurniawan, menyampaikan bahwa inisiatif tersebut memanfaatkan potensi air buangan (brine) berkadar garam tinggi dari fasilitas MDMP Pertamina yang selama ini dinetralisir sebelum dikembalikan ke laut.
“Ke depan, potensi tersebut akan kami optimalkan melalui penerapan teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR), sehingga menghasilkan garam industri bernilai tambah dan berdaya saing,” ujar Indra.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat ini, proyek tengah memasuki tahap penyusunan feasibility study (FS) dan ditargetkan memasuki fase lanjutan pada April mendatang. Skema pengembangan dirancang sebagai kolaborasi strategis antara PT Garam, Pertamina, dan Danantara, dengan orientasi jangka panjang membangun ekosistem hilirisasi terintegrasi.
Dengan kapasitas awal 1 juta ton per tahun dan memanfaatkan air buangan minimal 4 derajat baume, produksi akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan sektor CAFE (Chemical, Alkali, Food, and Energy) yang selama ini masih mengandalkan pasokan impor.
Ekspansi Nasional dan Penguatan Kapasitas Produksi
Selain proyek Balikpapan, PT Garam juga menjalankan sejumlah inisiatif strategis di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari roadmap swasembada, antara lain:
– Rote (NTT) – Penguatan produksi melalui penugasan KKP.
– Bipolo (300 hektare) – Kolaborasi dengan Q-Tech Jerman dan pendanaan KfW menggunakan teknologi SWRO.
– Pembangunan fasilitas MVR berkapasitas 100 ribu ton bersama CityCon.
– Komitmen investasi perusahaan Arab Saudi untuk pembangunan kapasitas 400 ribu ton.
– Pengembangan pabrik garam konsumsi di Madura berkapasitas hingga 160 ribu ton per tahun bersama mitra lokal.
Indra menegaskan, strategi hilirisasi tidak hanya berhenti pada produksi NaCl, tetapi juga mencakup pengembangan mineral turunan seperti kalsium dan magnesium melalui kerja sama dengan investor asal Swedia. Langkah ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga memperkuat aspek keberlanjutan dan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
Roadmap Terintegrasi Menuju Swasembada
Seluruh proyek tersebut telah dirancang dalam satu peta jalan terintegrasi untuk menutup kesenjangan pasokan garam industri nasional. Tiga proyek utama diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri aneka pangan, sementara produksi dari Balikpapan, Rote, dan Bipolo diproyeksikan menopang kebutuhan industri CAFE.
“Dengan tambahan kapasitas 1 juta ton di Balikpapan, kami optimistis dapat memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat struktur pasokan dalam negeri dan menekan ketergantungan impor,” tegas Indra.
Pada 2026, PT Garam menargetkan tambahan tujuh proyek groundbreaking guna mempercepat peningkatan kapasitas produksi nasional.
Penguatan Ekosistem Petambak dan Koperasi
Dalam strategi jangka panjang, PT Garam juga menata ulang segmentasi pasar melalui skema klasterisasi. Produksi berbasis teknologi difokuskan untuk industri, sementara fasilitas pengolahan di Madura diarahkan untuk menyerap produksi petambak rakyat.
Petambak dengan standar kualitas NaCl minimal 94 persen akan difasilitasi melalui skema kemitraan koperasi sebagai mitra resmi transaksi PT Garam. Skema ini dirancang untuk menghadirkan kepastian pasar, transparansi tata niaga, serta mendorong peningkatan kualitas produksi.
“Kami ingin memastikan bahwa transformasi industri ini berjalan inklusif, memberi kepastian bagi petambak, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional,” ujar Indra.
Melalui kolaborasi lintas kementerian dan mitra strategis, PT Garam menempatkan hilirisasi sebagai fondasi utama menuju Indonesia yang lebih mandiri dalam pemenuhan kebutuhan garam industri.




































