Jakarta, Suararealitas.co — Dewan Pimpinan Daerah Bintang Muda Indonesia (DPD BMI) Provinsi DKI Jakarta resmi mengukuhkan kepengurusan baru periode 2026–2031 dalam sebuah prosesi yang digelar di Jakarta, Minggu (8/2/2026). Dalam agenda tersebut, Mirza Mustaqim terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD BMI DKI Jakarta.
Pengukuhan kepengurusan ini menjadi titik awal kepemimpinan Mirza Mustakim dalam menata ulang peran BMI Jakarta sebagai organisasi kepemudaan yang aktif, relevan, dan berdaya guna di tengah dinamika sosial politik ibu kota. Di bawah kepemimpinannya, BMI Jakarta diarahkan tidak hanya sebagai organisasi struktural, tetapi sebagai kekuatan moral dan sosial yang bekerja nyata di tengah masyarakat.
Dalam sambutan perdananya, Mirza menegaskan bahwa kepemimpinan baginya adalah soal keteladanan dan keberpihakan. Ia menyebut jabatan ketua bukan tujuan akhir, melainkan sarana pengabdian untuk memastikan suara masyarakat, khususnya generasi muda, mendapat ruang dalam proses pembangunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Amanah ini adalah tanggung jawab moral. Pemimpin harus hadir, mendengar, dan bekerja bersama rakyat, bukan berdiri di atas mereka,” tegas Mirza.
Mirza menekankan pentingnya membangun kepemimpinan yang berakar pada integritas personal dan pengendalian diri. Menurutnya, organisasi kepemudaan harus menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar alat mobilisasi politik.
Ia juga menegaskan arah kepemimpinannya yang menolak praktik politik instan. Di bawah komandonya, BMI Jakarta diarahkan untuk mencetak kader yang konsisten bekerja untuk masyarakat, memiliki kepekaan sosial, serta mampu menjaga etika dalam setiap dinamika politik.
“Kita tidak ingin kader yang hanya hadir saat momentum politik. Kita ingin kader yang tumbuh bersama masyarakat dan setia pada nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Dalam membangun organisasi, Mirza menaruh perhatian besar pada soliditas dan militansi kader yang sehat. Ia menilai militansi tidak identik dengan fanatisme, melainkan keberanian untuk berpihak pada kebenaran dan kepentingan publik.
Mirza juga memposisikan BMI Jakarta sebagai ruang pembelajaran politik yang inklusif dan membumi. Ia mendorong kader untuk aktif berdialog, berinovasi, serta berperan sebagai jembatan antara aspirasi warga dan pengambil kebijakan.
“BMI Jakarta harus menjadi sekolah kepemimpinan yang melahirkan kader berintegritas, kritis, dan beretika. Dari Jakarta, kita ingin memberi contoh bagaimana politik dijalankan dengan nurani,” katanya.
Selain pengukuhan, kegiatan tersebut dirangkaikan dengan diskusi bertema “Wapres Muda 2029: Simbol Regenerasi atau Strategi Politik?”. Forum ini dimaknai Mirza sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran politik generasi muda yang cerdas dan bertanggung jawab.
“Regenerasi bukan soal usia semata, tetapi tentang kesiapan moral dan kapasitas kepemimpinan,” pungkas Mirza.
Acara pengukuhan dan pelantikan tersebut dihadiri jajaran Dewan Pembina, pengurus pusat dan daerah, tokoh masyarakat, perwakilan organisasi kepemudaan, serta sejumlah tamu undangan dari berbagai elemen masyarakat.
Sementara itu, Ketua Panitia, Dimas H. Pribadi, dalam laporannya menyampaikan bahwa dinamika Musyawarah Daerah (Musda) berjalan cair, demokratis, dan penuh nuansa kekeluargaan. Meski persiapan tergolong singkat, antusiasme kader untuk mendorong regenerasi kepemimpinan di Jakarta dinilai sangat tinggi.
“Persiapan hanya berlangsung sekitar dua minggu, namun kerja keras seluruh panitia sangat luar biasa. Hari ini bukan sekadar pelantikan, melainkan awal perjuangan baru bersama Partai Demokrat,” ujar Dimas.




































