Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Iklan
Iklan

Pasang Iklan Hubungi Admin

Baca berita tanpa iklan. Gabung Suara Realitas

Suara Realitas Official AppGRATIS • Berita terkini Install
Gabung Suara Realitas Masuk
S+
Tranding
Pasang iklan di sini

Jangkau pembaca Suara Realitas. Hubungi admin untuk tarif dan ketentuan iklan.

Bagikan:fXWTMiris! Warga Rajeg Tinggal di Rumah 3×3 Meter Berbilik Bambu, Butuh Uluran Tangan PemerintahKomentar: 0
Andra Soni

Miris! Warga Rajeg Tinggal di Rumah 3×3 Meter Berbilik Bambu, Butuh Uluran Tangan Pemerintah

Suara Realitas, 7 Desember 2025, 22:11 WIB · 2 menit bacaBaca di App
Huruf
Arif duduk di dalam ruangan 3x3 meter berdinding bilik bambu yang ditinggalinya bersama istri dan dua anak. Rumah sempit ini menjadi tempat mereka bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi

KABUPATEN TANGERANG,Suararealitas.co – Potret memilukan kembali muncul dari pelosok Kampung Cipaniis, RT 013 RW 04, Desa Rancabango, Kecamatan Rajeg. Arif, seorang pekerja harian lepas, hidup bersama istrinya Nurmi dan dua anak mereka di sebuah ruangan sempit berukuran sekitar 3×3 meter, berdinding bilik bambu, tanpa kamar, tanpa sekat, dan hanya beralaskan lantai sederhana untuk tidur.

‎Di dalam ruangan yang menjadi tempat mereka beraktivitas sekaligus beristirahat, tampak satu kasur tipis terhampar di lantai. Seorang anak tertidur pulas di sudut ruangan, sementara Arif duduk bersila dengan wajah tenang namun menyimpan kepenatan hidup yang berat. Sebuah kipas angin menjadi salah satu benda paling mencolok mungkin satu-satunya penolong untuk mengusir panas dalam ruangan yang sempit itu.

‎Kondisi rumah sangat jauh dari kata layak huni. Ketika hujan turun, air dengan mudah masuk melalui celah atap dan bilik bambu yang lapuk. Dalam satu ruang kecil itulah seluruh aktivitas keluarga berlangsung tidur, makan, bahkan anak-anak bermain. Tidak ada kamar, semua menyatu dalam keterbatasan yang harus mereka terima setiap hari.

Baca Juga :  Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un, Asep Saefudin, Staf PPAT Kecamatan Mauk Berpulang

Arif mengaku, ia keluar rumah setiap pagi untuk bekerja serabutan. “Apa saja saya kerjakan yang penting bisa bawa pulang buat makan,” ungkapnya saat ditemui wartawan, Minggu (7/12/2025).

‎Namun pendapatan tidak selalu ada; ada hari-hari ketika ia pulang tanpa membawa hasil.

‎Saat ditanya terkait bantuan pemerintah, Arif menyebut pernah menerima bantuan beberapa tahun lalu.

‎“Dulu sekitar tahun 2022 pernah dapet, ngambilnya di bank BJB setahun tiga kali. Tapi untuk sekarang belum ada lagi,” ujarnya.

‎Pernyataan ini menunjukkan bahwa bantuan yang dulu sempat membantu kini berhenti, sementara keadaan keluarga Arif tidak kunjung membaik. Rumah yang hampir roboh, ruang tidur sempit, serta dua anak yang masih kecil seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan pihak terkait untuk segera turun tangan memberikan perhatian.

Baca Juga :  Tukar Sampah Jadi Cuan, Pegadaian Ajak Masyarakat Bantar Gebang Memilah Sampah Menabung Emas

Kisah keluarga kecil ini bukan hanya catatan kemiskinan, tetapi sebuah cermin bahwa masih ada warga yang bertahan hidup dalam kondisi yang tidak selayaknya dialami oleh warga negara. Mereka tidak menuntut lebih, hanya mengharapkan tempat tinggal yang aman dan layak untuk anak-anak bertumbuh tanpa rasa takut ketika hujan datang atau ketika angin malam menusuk tubuh.

Semoga ada tangan yang mengetuk pintu kecil itu, tangan pemerintah, komunitas, maupun masyarakat yang ingin membantu. Karena di balik bilik rapuh itu tinggal sebuah keluarga yang terus berjuang agar esok lebih baik dari hari ini.

Baca tentangAndra Soni
Lihat Berita Aktual Selengkapnya→
Memuat berita berikutnya…
Artikel Terkait Berita Aktual
NasionalKanal lain