TANGERANG, Suararealitas.co — Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) menyoroti pentingnya penguatan ketahanan energi nasional untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, transformasi digital, dan pengembangan industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Simposium Nasional bertajuk “Ketahanan Energi Nasional Menuju Swasembada Energi Berkelanjutan” yang digelar pada Kamis (15/10/2026).
Forum yang diselenggarakan DPP PIKI itu membahas berbagai tantangan sektor energi, mulai dari kesiapan infrastruktur dan implementasi Kebijakan Energi Nasional hingga pengembangan energi terbarukan dan potensi pemanfaatan energi nuklir.
Penguatan sektor energi dinilai semakin mendesak seiring meningkatnya kebutuhan listrik untuk mendukung industri digital, termasuk pusat data berkapasitas besar yang menjadi infrastruktur penting dalam pengembangan teknologi AI.
Energi Jadi Fondasi Pengembangan AI
Ketua Dewan Pakar DPP PIKI, James T. Riady, menegaskan bahwa penguasaan sektor energi dari hulu hingga hilir merupakan faktor penting bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing di tengah perkembangan teknologi global.
Menurut dia, investasi dunia yang semakin besar pada industri AI harus diimbangi dengan kemampuan Indonesia menyediakan pasokan energi yang andal dan berkelanjutan.
“Indonesia adalah konsumen AI. Namun, kunci pengembangan sektor ini ada pada energi. Investasi besar dunia saat ini mengalir ke AI, dan kita harus menguasai dari hulu agar menjadi pemain utama teknologi,” tegas James.
Ia menilai, ketersediaan energi yang memadai menjadi salah satu prasyarat bagi Indonesia untuk mengembangkan pusat komputasi secara mandiri. Dengan dukungan infrastruktur energi yang kuat, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi global, tetapi juga mampu mengambil peran lebih besar dalam ekosistem industri digital.
Pemerataan Energi dan Pengembangan Sumber Daya
Di samping memenuhi kebutuhan industri berteknologi tinggi, penguatan ketahanan energi perlu diiringi pemerataan akses listrik ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Implementasi Kebijakan Energi Nasional dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat sistem ketenagalistrikan. Pengembangan energi terbarukan serta kajian pemanfaatan energi nuklir juga menjadi opsi untuk mendukung keberlanjutan pasokan energi dalam jangka panjang.
Kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan BUMN energi seperti PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero), diharapkan dapat mempercepat penyediaan infrastruktur dan pengembangan sumber energi yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
Melalui simposium tersebut, PIKI mendorong penguatan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membangun sistem energi yang andal, merata, dan berkelanjutan.
Upaya tersebut diharapkan dapat menopang transformasi ekonomi nasional sekaligus mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.












