Tangerang, Suararealitas.co — Universitas Pelita Harapan (UPH) menggelar Seminar Nasional bertema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” yang diangkat dari Matius 1:21–24, di Kampus Utama UPH Karawaci, Tangerang, Banten, Selasa (3/2/2026). Kegiatan ini menjadi rangkaian penutup dari perhelatan Natal Nasional 2025 sekaligus ruang refleksi lintas iman, akademik, dan kebangsaan.
Seminar nasional in sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI Maruarar Sirait, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Brian Yuliarto, Menteri Agama RI Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, serta Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan, DR. (H.C.) James T. Riady.
Dalam sambutannya, Maruarar Sirait menegaskan bahwa pembangunan keluarga yang kuat harus berjalan seiring dengan penguatan pendidikan dan arah pembangunan nasional. Ia menyampaikan visi lima tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menitikberatkan pada penguatan pendidikan sains dan teknologi (STM) serta hilirisasi sumber daya alam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita ingin membangun industri persiapan STM berbasis sains dan teknologi agar memberi nilai tambah. Hilirisasi harus berjalan supaya kekayaan alam Indonesia tidak lagi dijual mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tinggi,” ujar Maruarar.
Ia menekankan bahwa penguasaan sains, teknologi, dan riset menjadi kunci agar Indonesia tidak mudah didikte oleh negara lain. “Indonesia harus menjadi negara yang kaya, super kaya, dan super kuat,” tegasnya.
Maruarar juga menyampaikan keyakinannya terhadap kepemimpinan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Brian Yuliarto dalam memperkuat agenda riset dan pengembangan STM nasional.
Pendidikan, Keluarga, dan Nilai Persaudaraan
Dalam suasana yang lebih personal, Maruarar berbagi pengalaman sebagai orang tua serta menyoroti peran pendidikan dalam membentuk karakter dan integritas generasi muda. Ia menuturkan pengalamannya menyekolahkan kedua anaknya di Sekolah Pelita Harapan (SPH).
“SPH membentuk brotherhood yang kuat. Sampai hari ini anak saya masih memiliki hubungan yang erat dengan teman-temannya sejak sekolah,” katanya.
Ia menekankan pentingnya membangun persahabatan yang sehat, keberanian moral, dan integritas sejak usia dini.
“Banyak orang tahu mana yang benar, tetapi tidak berani melakukan yang benar. UPH harus mencetak generasi yang berani secara moral dan memiliki zero tolerance terhadap kompromi nilai,” tegasnya.
Natal Nasional: Sederhana, Berdampak, dan Transparan
Sebagai Ketua Panitia Natal Nasional 2025, Maruarar memaparkan perjalanan panjang penyelenggaraan Natal Nasional yang telah menggelar 10 seminar di berbagai daerah, termasuk Bandung, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Seminar di UPH ini menjadi kegiatan ke-11 yang dilaksanakan sebelum laporan akhir disampaikan, seiring masih berlangsungnya penyaluran bantuan sosial.
Ia mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan dua arahan utama saat menunjuknya sebagai ketua panitia, yakni Natal Nasional harus diselenggarakan secara sederhana dan berdampak.
“Atas arahan Presiden, Natal Nasional tidak digelar secara mewah. Tidak ada artis nasional. Pengisi acara berasal dari Papua, NTT, dan Tapanuli. Konsumsi berasal dari UMKM. Natalnya sederhana, tetapi dampaknya nyata,” jelasnya.
Berbagai bantuan yang telah disalurkan panitia Natal Nasional 2025 antara lain:
- 3 unit ambulans untuk pelayanan kesehatan
- 1.000 paket bantuan pendidikan dari mitra lintas iman
- Renovasi 100 gereja
- 20.000 paket sembako di 10 titik nasional
- Pembangunan 2 jembatan di Papua
- Pembangunan 1 gedung Sekolah Alkitab di Wamena
- Distribusi 30.000 Alkitab ke berbagai wilayah Indonesia
- Respons cepat terhadap bencana alam
UPH Tegaskan Komitmen pada Pendidikan dan Keluarga
Rektor Universitas Pelita Harapan, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada UPH sebagai tuan rumah seminar penutup rangkaian Natal Nasional 2025.
Ia menegaskan bahwa tema seminar sejalan dengan panggilan UPH sebagai institusi pendidikan Kristen yang menempatkan keluarga dan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
“Natal bagi keluarga sangat penting, bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk kembali menempatkan pendidikan sebagai perhatian utama dalam kehidupan keluarga,” ujar Rektor Parapak.
Ia menambahkan bahwa UPH merasa bersyukur dapat berkontribusi dalam kegiatan yang mendorong penguatan keluarga dan generasi penerus melalui pendidikan yang berlandaskan nilai iman dan integritas.
Rektor Parapak juga memaparkan cakupan UPH dan jaringan Yayasan Pendidikan Pelita Harapan yang mengelola lebih dari 70 sekolah di berbagai daerah di Indonesia, dengan kampus UPH yang tersebar di Jakarta, Surabaya, dan Medan.
Refleksi Iman dan Makna Keselamatan
Sementara itu, Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan, DR. (H.C.) James T. Riady, mengajak peserta untuk merenungkan makna terdalam kehadiran Yesus Kristus dalam kehidupan manusia dan keluarga.
Ia menyinggung kisah Alkitab tentang orang lumpuh yang dibawa kepada Yesus melalui atap rumah, yang menurutnya mencerminkan kecenderungan manusia mencari solusi yang kasat mata dan bersifat fisik.
“Yesus tidak menolak kesembuhan fisik, tetapi Ia terlebih dahulu mengampuni dosa. Mujizat terbesar bukanlah kesembuhan tubuh, melainkan pemulihan hubungan manusia dengan Allah,” ujar James Riady.
Ia menegaskan bahwa tubuh bersifat sementara, sementara jiwa dan pemulihan rohani bersifat kekal. Dalam konteks pelayanan Natal dan kehidupan berbangsa, ia menilai bahwa pelayanan sosial, pendidikan, dan kesehatan merupakan jembatan untuk membawa manusia kepada pengharapan yang lebih besar.
Ruang Dialog Lintas Perspektif
Seminar nasional ini menghadirkan pembicara kunci Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Brian Yuliarto. Kegiatan ditutup dengan sambutan Maruarar Sirait selaku Ketua Panitia Natal Nasional 2025.
Dengan menghadirkan tokoh lintas sektor, seminar ini menegaskan peran strategis keluarga dan pendidikan dalam membangun generasi bangsa, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat dalam menanamkan nilai iman, intelektualitas, dan pengabdian bagi Indonesia.




































