Aceng Syamsul Hadie: Mengapa Ngotot Keberlanjutan MBG Dibanding Moratorium Total (Ruang Evaluasi), Ingat Korban Keracunan Makanan MBG Sudah Terlalu Banyak !!

- Jurnalis

Sabtu, 21 Februari 2026 - 10:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Suararealitas.co – Mengerikan, dampak dari keracunan MBG terjadi di berbagai daerah, antara lain; Cianjur, Sukoharjo, Banggai, Gorontalo, Banjar Kalsel, Kulon Progo, Sleman, Bandar Lampung, Lebong Bengkulu, Semarang, Agam Sumbar, Bandung Barat, Sumedang dan masih banyak lagi yang lain. Berdasarkan info yang menjadi korban keracunan MBG sampai hari ini menurut data pemerintah dan JPPI sudah mencapai kurang lebih 12 ribu sampai 14 ribu orang, adapun yang menjadi korban terindikasi bukan hanya siswa tetapi juga guru, balita, ibu hamil, dan anggota keluarga di rumah tangga yang menerima paket MBG.

“Mengapa pemerintah sangat ngotot menekankan keberlanjutan program MBG dibanding untuk melakukan moratorium Total (ruang evaluasi), ingat korban keracunan makanan MBG sudah terlalu banyak !!”, ungkap Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM. selaku Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional).

Aceng menjelaskan bahwa Program MBG sejak awal diproyeksikan sebagai kebijakan unggulan pemerintah untuk memperkuat fondasi kualitas sumber daya manusia. Secara politik, program ini memiliki daya tarik elektoral dan simbolik yang kuat: negara hadir langsung di meja makan anak-anak sekolah. Namun dalam praktiknya, sejumlah kasus dugaan keracunan makanan yang muncul di berbagai daerah telah menggeser perdebatan dari soal ambisi pembangunan menjadi soal keselamatan publik.

“Dalam perspektif politik kebijakan (policy politics), persoalan yang kini dihadapi pemerintah bukan semata isu teknis distribusi makanan, melainkan ujian terhadap kapasitas tata kelola dan sensitivitas terhadap risiko. Kebijakan publik berskala nasional yang menyasar kelompok rentan selalu membawa konsekuensi etis dan politik yang tinggi. Ketika terjadi insiden yang menyangkut kesehatan anak, respons pemerintah menjadi indikator kualitas kepemimpinan”, tegasnya.

Aceng pun menerangkan bahwa moratorium sementara terhadap MBG bukanlah bentuk delegitimasi program. Justru sebaliknya, penghentian terukur untuk audit independen adalah langkah rasional dalam manajemen risiko kebijakan. Negara-negara dengan tradisi tata kelola yang matang kerap melakukan policy pause ketika ditemukan indikasi kelemahan sistemik, terutama pada kebijakan yang berdampak langsung pada kesehatan publik.

“Secara politik, mempertahankan program tanpa jeda evaluasi mungkin terlihat sebagai bentuk konsistensi. Namun konsistensi yang mengabaikan dinamika fakta lapangan dapat berubah menjadi rigiditas. Kepemimpinan yang kuat bukanlah kepemimpinan yang menolak kritik, melainkan yang mampu membedakan antara serangan politik dan peringatan berbasis data”, tambahnya.

Baca Juga :  Hadirkan Kisah Cinta Tragis dengan Paduan Genre Horor Berbalut Budaya Tionghoa, Film Pernikahan Arwah Siap Tayang di Bioskop 27 Februari 2025

Yang juga perlu dicermati adalah dimensi jangka panjang. MBG bukan sekadar program bantuan sosial; ia adalah proyek politik yang melekat pada reputasi pemerintah. Jika masalah keamanan pangan tidak ditangani secara transparan sejak awal, maka setiap insiden baru akan menggerus kredibilitas secara kumulatif. Dalam politik modern, krisis kepercayaan lebih mahal daripada koreksi kebijakan.

Karena itu, langkah paling rasional dan strategis saat ini adalah menghentikan sementara pelaksanaan MBG untuk dilakukan evaluasi menyeluruh, audit independen, dan penataan ulang sistem pengawasan. Langkah tersebut harus disertai komunikasi publik yang terbuka, bukan sekadar klarifikasi administratif.

“Pada akhirnya, inti persoalan ini bukan tentang berhasil atau gagalnya sebuah program, melainkan tentang prioritas nilai dalam pengambilan keputusan politik. Ketika keselamatan anak berhadapan dengan pertimbangan citra kebijakan, negara harus memilih tanpa ragu. Dalam demokrasi yang sehat, keberanian untuk berhenti sejenak demi memastikan keamanan adalah tanda kedewasaan, bukan kelemahan”, pungkasnya.

 

 

Penulis : ASH

Editor : Eka

Berita Terkait

Sinergitas Tokoh Masyarakat Sukapura dengan Kepala Kantor ATR/BPN Jakarta Utara Dorong Tertib Administrasi Pertanahan
Menuju 17 Agustus, Ketum DPP AWPI Tekankan Peran Pers dalam Menjaga Persatuan dan NKRI
SPN Polda Metro Gelar Ekspedisi Darat, Bentuk Siswa Polri Presisi dan Humanis
Polres Pelabuhan Tanjung Priok Berbagi Kebahagiaan, Santuni 40 Anak Yatim dan Gelar Doa Bersama
Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Perkuat Sinergi dengan Tokoh Masyarakat Jakarta Utara, Bahas Kamtibmas dan Kerukunan
Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Turun Langsung ke Muara Angke, Serap Aspirasi Warga Lewat Jaga Jakarta On The Spot
Lebih dari 1.000 Peserta Ramaikan Fun Walk KOWANI, Gaungkan Tempe Indonesia Menuju UNESCO
Wakil Camat Grogol Petamburan: AI dan Big Data Jadi Bekal Membangun Kota Masa Depan

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 12:50 WIB

Sinergitas Tokoh Masyarakat Sukapura dengan Kepala Kantor ATR/BPN Jakarta Utara Dorong Tertib Administrasi Pertanahan

Senin, 10 Agustus 2026 - 09:34 WIB

Menuju 17 Agustus, Ketum DPP AWPI Tekankan Peran Pers dalam Menjaga Persatuan dan NKRI

Minggu, 9 Agustus 2026 - 17:45 WIB

SPN Polda Metro Gelar Ekspedisi Darat, Bentuk Siswa Polri Presisi dan Humanis

Minggu, 9 Agustus 2026 - 17:42 WIB

Polres Pelabuhan Tanjung Priok Berbagi Kebahagiaan, Santuni 40 Anak Yatim dan Gelar Doa Bersama

Minggu, 9 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Perkuat Sinergi dengan Tokoh Masyarakat Jakarta Utara, Bahas Kamtibmas dan Kerukunan

Berita Terbaru