Fenomena Perwira Jadi “Pangkodamar”, Bukan Pelayan Rakyat, Rahmad Sukendar: Polri Harus Reformasi Total dari Sekarang

- Jurnalis

Selasa, 25 November 2025 - 12:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, suararealitas.co – Ketua Umum BPI KPNPA RI, Rahmad Sukendar, kembali menembakkan kritik keras terhadap kondisi internal Polri yang dinilainya semakin jauh dari harapan publik.

Ia menyebut banyak perwira kini justru berubah menjadi “Pangkodamar” (Panglima Komando dalam Kamar) yang lebih nyaman bersembunyi di balik meja ketimbang hadir di tengah rakyat.

Sukendar menegaskan, jabatan struktural yang seharusnya digunakan untuk mendengarkan suara masyarakat justru berubah menjadi tembok sulit ditembus bagi warga kecil yang mencari keadilan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Banyak masyarakat ingin bertemu kapolsek, kapolres, kapolda, atau pejabat utama Polri, tapi sulitnya luar biasa. Tapi untuk cukong, sangat mudah ditemui. Ini ironi besar,” tegas Sukendar kepada suararealitas.co, Selasa (25/11/2025).

Bahkan, fenomena itu telah merusak citra Polri serta mempertebal jarak antara aparat dan masyarakat yang seharusnya mereka layani.

Publik Rindukan Pemimpin Polri yang Sederhana

Sukendar menilai, publik kini merindukan kehadiran figur pemimpin Polri yang sederhana, transparan, dan mau turun ke lapangan tanpa protokoler berlapis.

Ia menyebut sosok Irjen Pol (Purn) Umar Septono sebagai contoh nyata jenderal yang merakyat dan dicintai masyarakat. Namun figur semacam itu, kini semakin jarang ditemukan.

Baca Juga :  Rahmad Sukendar: Ini Bukan Bencana Alam Tapi Pembantaian Ekologis Akibat Pembiaran Negara!

“Belum ada sosok Hoegeng yang lahir kembali di tubuh Polri. Padahal publik merindukannya,” ujarnya.

Menurut dia, bahwa Polri membutuhkan lebih banyak pemimpin yang hadir langsung di tengah rakyat, bukan hanya bersembunyi di ruang kerja ber-AC.

Pertemuan Kapolri – Kasatwil Harus Jadi Titik Balik Reformasi

Sukendar juga mendorong agar pertemuan Kapolri dengan seluruh Kasatwil se-Indonesia tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi momentum besar menuju reformasi total Polri.

Ia menegaskan kembali, bahwa reformasi harus menyentuh akar persoalan, bukan sekadar seremonial.

“Kapolri harus menjadikan pertemuan ini sebagai titik balik. Reformasi Polri harus konkret, terukur, dan dirasakan langsung oleh publik,” katanya.

Dia mengaku, Kasatwil memegang peran strategis dalam memulihkan kepercayaan publik. Internal harus dibersihkan dan pelayanan harus diperbaiki.

“Jangan sampai kantor polisi justru menjadi tempat lahirnya masalah baru. Penegakan hukum harus imparsial,” ujarnya.

Gaya Hidup Hedon Polisi Dinilai Sudah Mengkhawatirkan

Sukendar memberikan peringatan keras terkait budaya hedon yang dipertontonkan sebagian oknum polisi. Flexing mobil mewah, pesta eksklusif, hingga endorse dinilainya telah melewati batas kewajaran.

Baca Juga :  Kakanwil Kamenag Provinsi Banten, Bacakan Ikrar Santri di Hari Santri

“Sudahi budaya flexing. Sudahi endorse yang merendahkan martabat institusi. Polisi itu pelayan rakyat, bukan selebgram,” tegasnya.

Ia menilai reformasi mental mustahil berjalan jika gaya hidup berlebihan masih dibiarkan berkembang.

Pelayanan Publik Jadi Barometer Utama Reformasi Polri

Sukendar mengatakan, ukuran reformasi Polri tidak boleh diukur dari banyaknya spanduk atau slogan, tetapi dari perubahan pelayanan publik yang konkret.

“Masyarakat ingin dilayani dengan hati. Bukan dipersulit, bukan menunggu viral dulu baru bergerak,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa reformasi harus mengalir dari Mabes Polri sampai Bhabinkamtibmas karena level itulah yang paling sering bersentuhan dengan masyarakat.

“Jika pelayanan di Polsek saja masih bermasalah, bagaimana dengan pelayanan di level atas?,” singgungnya.

Untuk itu, dia pun menambahkan, Kapolri dan Pejabat Utama segera berbenah diri dengan memberikan contoh yang terbaik dalam menjalankan tugas.

“Kembalikan marwahnya Polri sesuai dengan keinginan para pendiri Polri yaitu Polri adalah pelayan dan pengayom masyarakat,” pungkasnya.

Berita Terkait

Kisah Kompol Yuni: Sosok Polisi Garang Berantas Narkoba, Kini Terseret Pusaran Barang Terlarang
Wartawan vs Konten Kreator, Siapa Penjaga Kebenaran di Era AI?
Ketika Advokat Koreksi Negara: Ketuk Pintu MK Demi Tata Kepolisian
Refleksi HPN 2026, Telisik Putusan MK: Dapatkah Mampu Jembatani Norma dan Realitas Praktik Perlindungan Wartawan
Aturan Hak Jawab Kedaluwarsa di Era Digital, Praktisi Pers Mubinoto Amy Ajukan Revisi ke Dewan Pers
Camat dan Sekcam Pasarkemis, Mengucapkan Selamat Menyambut Hari Raya Natal Bagi Umat Kristiani dan Tahun Baru 2026
Rahmad Sukendar: Ini Bukan Bencana Alam Tapi Pembantaian Ekologis Akibat Pembiaran Negara!
67 Persen Kapolsek di Indonesia Dinilai Tak Kompeten, Rahmad Sukendar Tuding Ada Masalah Serius dalam Sistem Pembinaan Polri

Berita Terkait

Rabu, 25 Februari 2026 - 12:34 WIB

Kisah Kompol Yuni: Sosok Polisi Garang Berantas Narkoba, Kini Terseret Pusaran Barang Terlarang

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:14 WIB

Wartawan vs Konten Kreator, Siapa Penjaga Kebenaran di Era AI?

Rabu, 28 Januari 2026 - 12:42 WIB

Ketika Advokat Koreksi Negara: Ketuk Pintu MK Demi Tata Kepolisian

Senin, 26 Januari 2026 - 12:35 WIB

Refleksi HPN 2026, Telisik Putusan MK: Dapatkah Mampu Jembatani Norma dan Realitas Praktik Perlindungan Wartawan

Selasa, 9 Desember 2025 - 14:23 WIB

Aturan Hak Jawab Kedaluwarsa di Era Digital, Praktisi Pers Mubinoto Amy Ajukan Revisi ke Dewan Pers

Berita Terbaru