Jakarta, (20/2) Suararealitas.co – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjamin stok ikan selama Ramadan 2026 tetap aman dengan harga stabil. Hal tersebut didukung oleh produksi perikanan budi daya dan tangkap serta penguatan pengawasan mutu di berbagai daerah.
Direktur Jendral Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu, menyebutkan stok ikan dari sektor perikanan budi daya dalam kondisi aman dan siap memenuhi kebutuhan Ramadan tahun ini. Rata-rata produksi komoditas perikanan budi daya, seperti ikan kerapu, kakap, bandeng, lobster, dan beberapa ikan-ikan air tawar menunjukkan tren peningkatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau kami lihat dari data ketersediaan hasil budi daya di tahun ini sangat optimis. Kami bisa pastikan kebutuhan ikan dari sektor budi daya selama bulan puasa sampai lebaran bisa terpenuhi dengan baik,” paparnya dalam konferensi pers di Media Center KKP, Jakarta, Kamis (19/2).
Untuk sektor perikanan tangkap, jumlah produksi dari Januari-Maret 2026 mencapai sekitar 1,73 juta ton. Angka tersebut diproyeksikan akan meningkat jelang hari raya Idul Fitri seiring kembalinya kapal-kapal penangkap ikan.
Direktur Kepelabuhanan Perikanan Direktorat Jendral Perikanan Tangkap, Ady Candra, menuturkan bahwa pihaknya tetap siaga dengan melakukan pembantuan ekstensif melalui pusat informasi pelabuhan guna memastikan stok ikan terjaga dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Adapun, harga ikan secara umum relatif stabil di berbagai daerah. Kenaikan hanya terjadi pada beberapa komoditas tertentu seperti ikan cakalang, sementara sebagian besar jenis ikan lainnya masih berada pada kisaran harga normal.
“Kami sudah mengecek harga-harga di daerah yang konsumsinya tinggi. Dari kami yang jelas posisi harga di 8 kota besar di Indonesia relatif stabil, bahkan beberapa komoditas cenderung turun,” sambung Plt. Direktur Jendral Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Machmud.
Selain itu, Badan Mutu KKP juga melakukan pengawasan untuk memastikan kualitas dan keamanan ikan selama Ramadan tetap terjaga. Pengawasan mutu dilaksanakan melalui koordinasi lintas instansi, termasuk Pemerintah Daerah, UPTD Pasar, Balai POM, Dinas Keamanan Pangan, dan Eselon 1 KKP lainnya. Hasil pengawasan menunjukkan bahwa ikan yang beredar telah memenuhi standar dan aman dikonsumsi masyarakat.
“Mutu pangan bukan hanya soal kualitas produk. Ini adalah soal perlindungan kesehatan masyarakat, stabilitas sosial, dan kepercayaan terhadap produk perikanan nasional. Badan Mutu akan terus memperkuat sistem pengawasan berbasis risiko dan peningkatan kapasitas laboratorium agar standar nasional semakin kokoh dan sejalan dengan standar internasional,” ujar Kepala Badan Mutu KKP, Ishartini, pada acara serupa.
Pada sisi lain, KKP turut memperketat pengawasan langsung di laut lewat operasi pengawasan distribusi dan pemasaran komoditas perikanan, operasi pengawasan penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya produk perikanan, serta operasi ketupat Ramadan.
“Kapal pengawas dan pusat kendali selalu siaga memastikan laut tidak pernah berhenti kami jaga. Kami awasi 1 x 24 jam agar tidak ada illegal fishing atau pelanggaran perikanan di laut. Menuju lebaran banyak kapal kembali ke pelabuhan, kami ingin memastikan kapal pengawas kami siap ketika diperlukan untuk melakukan fungsi pertolongan dan pencarian,” tambah Plt. Sekretaris Direktur Jendral Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Saiful Umam.
Dengan penguatan pengawasan hulu–hilir ini, pihaknya memastikan bahwa produk perikanan yang dikonsumsi masyarakat selama Ramadhan 2026 terjamin mutu dan keamanannya, sekaligus memperkuat daya saing dan reputasi perikanan Indonesia di tingkat nasional maupun global. Hal ini sejalan dengan komitmen Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono yang sebelumnya memastikan akan terus memperkuat produksi, distribusi, dan pengawasan guna menjaga stabilitas pasokan selama Ramadan hingga Idul Fitri 2026.



































