Jakarta, Suararealitas.co — PT Express Transindo Utama Tbk (Express Group) menegaskan komitmennya untuk terus berbenah dan bertindak melalui strategi kolaborasi, efisiensi operasional, serta penguatan ekosistem digital, Hal itu disampaikan dalam public expose yang digelar di Jakarta, (31/10/2025).
Direktur Utama Express Group Johannes B.E. Triatmojo memaparkan perkembangan kinerja perusahaan, langkah restrukturisasi, serta arah transformasi bisnis yang tengah dijalankan menjelang 2026.
“Setelah melewati masa-masa berat akibat pandemi dan restrukturisasi keuangan, Express kini memasuki fase berbenah dan bertindak. Kami berkomitmen memperkuat kolaborasi, memperbaiki struktur bisnis, dan memastikan keberlanjutan operasional yang sehat,” ujar Johannes.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perjalanan dan Transformasi
Sejak berdiri pada 1989, Express Group dikenal sebagai salah satu pelopor layanan taksi di Indonesia. Perusahaan berkembang pesat pada periode 2002–2014 melalui skema kemitraan, IPO, dan penerbitan obligasi. Namun, sejak munculnya layanan transportasi daring pada 2015 dan dampak pandemi pada 2020, perusahaan menghadapi tantangan besar yang membuat ribuan armada tidak aktif dan memaksa restrukturisasi utang obligasi.
Pasca-2020, Express mulai fokus menata ulang bisnisnya melalui pengurangan armada, efisiensi sumber daya, serta kolaborasi dengan aplikator dan investor. Pada 2021, perusahaan berhasil melunasi kewajiban obligasi dan mulai kembali mengoperasikan unit-unit kerja sama, termasuk memasang charging station (SPKLU) untuk mendukung armada listrik.
Kinerja Bisnis dan Keuangan
Johannes menjelaskan, hingga September 2025, Express Group mencatat pendapatan sebesar Rp2,17 triliun dengan laba kotor minus Rp3,58 miliar. Aset perusahaan per September 2025 tercatat sebesar Rp55,08 miliar, dengan ekuitas Rp51,00 miliar. Meski angka-angka tersebut menunjukkan penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya, manajemen optimistis dengan arah pemulihan yang sedang dijalankan.
“Profitabilitas masih menjadi tantangan utama. Namun kami melakukan konsolidasi besar-besaran untuk memastikan efisiensi dan perbaikan arus kas. Kami sudah melihat sinyal positif dari model bisnis kolaboratif yang kami kembangkan sejak 2024,” jelasnya.
Kinerja Operasional dan Kolaborasi
Hingga Oktober 2025, Express Group mengoperasikan 170 unit armada taksi reguler hasil kolaborasi dengan aplikator, 5 unit taksi online milik investor individu, dan 10 unit bus pariwisata Eagle High yang dimiliki langsung oleh perusahaan.
Ketiga segmen tersebut beroperasi di wilayah Jabodetabek dan melayani perjalanan reguler, wisata, hingga kebutuhan korporasi.
Kolaborasi juga dijalin dengan berbagai mitra strategis, antara lain penyedia unit kendaraan (PT Bengkalis Kuda Laut dan ATPM Citroën), penyedia charger kendaraan listrik, serta aplikator seperti GoTo Group melalui anak usaha PT Rekan Anak Bangsa.
Rencana Strategis dan Arah 2026
Untuk 2026, Express Group menargetkan penambahan armada hingga 1.000 unit melalui skema kerja sama dengan vendor dan investor individu. Sebanyak 400 unit kendaraan listrik Citroën eC3 tengah disiapkan sebagai bagian dari program transisi menuju armada ramah lingkungan.
Selain itu, Express juga mengembangkan empat aplikasi digital untuk mendukung operasi bisnis: aplikasi pengemudi, aplikasi tim operasional, aplikasi rental, dan aplikasi penumpang. “Transformasi digital menjadi kunci efisiensi dan transparansi. Kami ingin menciptakan sistem yang adil dan produktif bagi pengemudi maupun mitra investor,” ujar Johannes.
Inisiatif Sosial dan Keberlanjutan
Sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan, Express Group berencana membentuk paguyuban pengemudi yang transparan dan profesional, menerapkan skema kepemilikan kendaraan bagi pengemudi, serta menghadirkan insentif dan skema retainer berbasis kinerja.
“Tujuan kami bukan hanya bertahan, tapi tumbuh dengan model bisnis yang menyejahterakan semua pihak pengemudi, investor, dan konsumen,” pungkas Johannes.



































