JAKARTA, Suararealitas.co — Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) mendorong perluasan penerapan teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau carbon capture, utilization, and storage (CCUS) ke sektor industri di luar minyak dan gas bumi (migas) guna mendukung upaya dekarbonisasi dan pencapaian target emisi nol bersih (net zero emissions) di Indonesia.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam PYC Talks Volume 4 Tahun 2026 bertema Peran CCS/CCUS dalam Dekarbonisasi Indonesia, yang diselenggarakan di The Purnomo Yusgiantoro Center, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Ketua Dewan Pengawas Purnomo Yusgiantoro Center, Inka B. Yusgiantoro, dalam sambutannya menjelaskan bahwa PYC Talks merupakan forum diskusi rutin yang mempertemukan para ahli, pemangku kepentingan sektor energi, dan masyarakat untuk membahas berbagai isu strategis, termasuk keamanan energi dan pembiayaan hijau.
Pada penyelenggaraan kali ini, PYC memaparkan hasil kolaborasi riset mengenai potensi dan peluang pengembangan CCS/CCUS di Indonesia. Kajian tersebut dilaksanakan sejak pertengahan 2025 hingga pertengahan 2026 dengan mempertimbangkan besarnya potensi penyimpanan karbon di Indonesia serta meningkatnya kebutuhan terhadap strategi dekarbonisasi yang efektif.
Inka menjelaskan, perkembangan regulasi dan proyek CCS/CCUS di Indonesia saat ini masih banyak berfokus pada sektor migas. Karena itu, diperlukan kajian lebih lanjut untuk mengidentifikasi peluang penerapan teknologi tersebut pada sektor industri lainnya.
Pengembangan CCS/CCUS membutuhkan pendekatan terintegrasi yang mencakup analisis teknologi, keekonomian, pembiayaan, dan pasar karbon. Keberhasilan implementasinya tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi, tetapi juga kejelasan regulasi, sistem akuntansi emisi yang memadai, serta ketersediaan sumber pembiayaan.
Melalui kajian tersebut, PYC bersama mitra riset berupaya menyusun rekomendasi strategis bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk mendukung pencapaian target net zero emissions melalui pengembangan CCS/CCUS. Hasil riset diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan proyek yang layak secara teknis dan ekonomi, menarik bagi investor, serta berkelanjutan.
Belajar dari Pengembangan CCS/CCUS di Kanada
Selain memaparkan hasil penelitian, PYC Talks Volume 4 juga mengangkat pembelajaran dari kunjungan studi ke Kanada yang berlangsung pada 14–26 September 2026.
Kunjungan tersebut diikuti tim peneliti PYC bersama sejumlah perwakilan pemangku kepentingan, termasuk dari Kementerian Perindustrian, Pertamina, dan PT PLN. Kegiatan ini bertujuan memperdalam pemahaman mengenai penerapan teknologi CCS/CCUS serta mempelajari pengalaman Kanada dalam mengembangkan proyek penangkapan dan penyimpanan karbon.
Selama kunjungan, tim peneliti dan perwakilan pemangku kepentingan mempelajari sejumlah proyek, termasuk Boundary Dam di Provinsi Saskatchewan. Fasilitas tersebut merupakan salah satu contoh penerapan teknologi penangkapan karbon yang terintegrasi dengan pembangkit listrik tenaga batu bara.
Mereka juga mengunjungi proyek direct air capture (DAC) di Provinsi Alberta. Teknologi DAC memungkinkan penangkapan karbon dioksida (CO₂) secara langsung dari udara, berbeda dengan sistem penangkapan karbon yang mengambil emisi dari sumber tertentu, seperti fasilitas industri atau pembangkit listrik.
Pengalaman tersebut memberikan wawasan tambahan bagi tim peneliti untuk memperdalam kajian CCS/CCUS di Indonesia dan melanjutkan penelitian ke tahap kedua.
Hasil kunjungan ke Kanada juga membuka peluang untuk mengkaji pengembangan teknologi DAC di Indonesia melalui studi kelayakan (feasibility study). Wilayah Jakarta menjadi salah satu lokasi yang disebut berpotensi dipelajari lebih lanjut.
Meski demikian, pengembangan teknologi tersebut masih memerlukan kajian mendalam untuk menilai kelayakan teknis, kebutuhan investasi, manfaat lingkungan, serta potensi penerapannya sesuai kondisi Indonesia.
Selain DAC, penerapan teknologi penangkapan karbon pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, dan pembangkit listrik mandiri di kawasan industri (captive power) juga menjadi perhatian.
Pengalaman Kanada diharapkan dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam mempelajari kesiapan teknologi, model pembiayaan, dan tahapan implementasi proyek CCS/CCUS. Penerapannya perlu disesuaikan dengan karakteristik sektor energi dan industri nasional.
Perkuat Kolaborasi untuk Dekarbonisasi Indonesia
PYC menyampaikan apresiasi kepada para narasumber, mitra akademik, dan institusi yang mendukung pelaksanaan riset serta kunjungan studi ke Kanada.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengetahuan dan membuka peluang kerja sama lanjutan dalam pengembangan teknologi penangkapan karbon di Indonesia.
Melalui PYC Talks Volume 4, hasil penelitian dan pembelajaran dari Kanada diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan strategi dekarbonisasi.
Pengembangan CCS/CCUS yang didukung kesiapan teknologi, regulasi yang jelas, serta skema pembiayaan yang tepat diharapkan dapat memperluas pilihan strategi penurunan emisi di sektor energi dan industri.
Dengan demikian, pemanfaatan teknologi penangkapan karbon dapat menjadi salah satu bagian dari upaya mencapai target net zero emissions, memperkuat ketahanan energi nasional, dan mendukung transisi energi yang berkelanjutan.












